Wah.. Pengendara sepeda pancal emang nggak ada matinya… Mereka seperti merajai jalanan dan sekitarnya.. Apalagi kalau bicara tentang muatan-muatan mereka… Bener bener deh…
Kalian pasti tahu dengan lukisan monalisa. Lukisan karya Leonardo Da Vinci itu adalah salah satu lukisan paling terkenal di dunia. Replika dan tiruanya sudah dibuat hingga ribuan bahkan jutaan buah dan semuanya tersebar di seluruh penjuru dunia. Nah, yang menarik, lukisan monalisa kali ini terbuat dari rangkaian 3.604 cangkir kopi yang disusun berdasarkan warna kopi sehingga membentuk lukisan monalisa yang Indah. Adalah Aroma Festival, Event yang mengadakan acara membuat Lukisan Monalisa dengan menggunakan 3.604 cangkir kopi tersebut. Lukisan Jumbo berukuran sekitar 3 x 4 meter ini dibuat dengan menggunakan paduan warna kopi. Untuk warna hitam, panitia menggunakan kopi murni, warna putih panitia menggunakan susu, sedangkan warna coklat dan gradasinya, menggunakan kopi dicampur susu yang dicampur dengan perbandingan tertentu disesuaikan dengan warna yang dibutuhkan. Festival yang dihelat di Sydney Australia ini kontan menjadi sangat ramai dan banyak dikunjungi oleh wisatawan yang berasal dari luar Sydney. Mereka penasaran ingin melihat langsung bagaimana rupa lukisan Monalisa yang terbuat dari ribuan cangkir kopi tersebut.
Fotografi! Tak lain dari Louis Jacques Mande Daguerre-lah orang yang di tahun 1830-an berhasil menemukan fotografi praktis. Daguerre dilahirkan tahun 1787 di kota Cormeilles di Perancis Utara. Waktu mudanya dia seniman. Pada umur pertengahan tiga puluhan dia merancang “diograma”, barisan lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek cahaya. Sementara dia menggarap pekerjaan itu, dia menjadi tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kwas atau cat. Dengan kata lain: kamera! Tingkat pertama perancangan alat kamera yang bisa berfungsi tidak berhasil. Di tahun 1827 dia ketemu Joseph Nicephore Niepce yang juga sedang mencoba (dan sejauh itu lebih sukses) menciptakan kamera. Dua tahun kemudian mereka menjadi kongsi. Di tahun 1833 Niepce meninggal, tetapi Daguerre tetap tekun meneruskan percobaannya. Menjelang tahun 1837 dia sudah berhasil mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnya “daguerreotype.” Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik secara terbuka tanpa mempatenkannya. Sebagai imbalan, pemerintah Perancis menghadiahkan pensiun seumur hidup kepada baik Daguerre maupun anak Niepce. Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk. Daguerre merupakan seorang pahlawan saat itu, ditaburi rupa-rupa penghormatan, sementara metode “daguerreotype” dengan cepat berkembang menjadi hal yang digunakan oleh umum. Daguerre sendiri segera pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris. Tak banyak penemuan teknologi yang begitu banyak digunakan awam seperti halnya fotografi. Dia digunakan di hampir tiap bidang penyelidikan ilmu. Begitu juga di bidang industri dan militer. Sarana yang vital di kalangan rakyat biasa, hobbi menyenangkan buat berjuta orang. Fotografi ambil bagian dalam penyebaran penerangan (atau penipuan untuk mengelabui orang lewat informasi palsu), di bidang pendidikan, jurnalistik dan iklan. Berhubung fotografi mampu dengan cepat mengingatkan orang akan masa lampaunya, dia menjadi sarana suvenir dan kenang-kenangan yang tersebar luas. Sinematografi, tentu saja, merupakan perkembangan berikutnya yang punya arti penting-selain melayani dan merupakan sarana hiburan yang tak bisa diabaikan-juga saina banyak digunakan setara dengan foto “diam.” Tak ada penemuan ilmiah yang dilakukan oleh seseorang sendirian tanpa ada petunjuk dari orang-orang sebelumnya seperti Daguerre. “Kamera obscura” (alat serupa dengan kamera tetapi tanpa film) telah diketemukan orang delapan abad sebelum Daguerre. Di abad ke-16, Girolamo Cardano membuat langkah menempatkan lensa di muka “kamera obscura” terbuka. Ini merupakan langkah penting menuju lahirnya kamera modern. Tetapi karena bayangan yang dihasilkan tidak tahan lama samasekali, sulitlah dianggap sebuah fotografi. Penemuan pemula lainnya diketemukan tahun 1727 oleh Johann Schulze yang menemukan bahwa garam perak sangat sensitif terhadap cahaya. Meskipun dia gunakan penemuan ini untuk membuat gambar sementara, Schulze tak punya gambaran bagaimana cara semestinya meneruskan gagasannya. Pendahulu yang dekat dengan apa-apa yang berhasil diperbuat Daguerre adalah Niepce yang kemudian menjadi partner Daguerre. Sekitar tahun 1829 Niepce menemukan bahwa batuan tebal hitam dari Judea, sejenis aspal, sangat peka terhadap cahaya. Dengan menggabungkan benda peka cahaya dengan “kamera obscura,” Niepce berhasil membuat foto pertama di dunia (salah satu yang dijepretnya tahun 1826 masih ada hingga sekarang). Atas dasar itu, beberapa orang menganggap Niepce-lah yang layak dianggap sebagai penemu fotografi. Tetapi sistem fotografi Niepce sepenuhnya tidak praktis karena memerlukan tidak kurang dari delapan jam untuk pengambilannya dan itu pun cuma menghasilkan gambar yang guram. Kamera resmi Daguerre yang diprodusir iparnya, Alphonse Girous, dibubuhi cap yang berbunyi: “Tanpa tanda tangan M. Daguerre dan tanda M. Giroux, tidak terjamin.”karena itu punya arti praktis yang berlebih. Pada metode Daguerre, gambar direkam di atas lembar yang berlapis “iodide perak”. Waktu pengambilan yang dibutuhkan antara 15-20 menit sudah cukup memadai walau berabe bawanya karena berat, toh berguna. Dua tahun sesudah Daguerre mempertunjukkan ciptaannya di depan umum, orang-orang usul penyempurnaan: penambahan “cairan perak” pada “iodide perak” yang peka cahaya. Perubahan kecil ini punya pengaruh banyak mengurangi waktu yang diperlukan buat pemotretan, karena itu punya arti praktis yang berlebih. Tahun 1839, sesudah Daguerre mengumumkan secara terbuka hasil penemuan fotografinya, William Henry Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memberitahukan pula bahwa dia telah mengembangkan metode fotografi lain, lewat cara pencetakan negatif, seperti dilakukan orang sekarang ini. Menarik untuk dicatat, Talbot sesungguhnya sudah memprodusir alat potret di tahun 1835, dua tahun sebelum keluarnya model Daguerre. Talbot, yang juga melibatkan diri dalam pelbagai proyek, tidak lekas-lekas meneruskan eksperimen fotografinya. Kalau saja hal ini dilakukannya, mungkin sekali dia bisa memprodusir alat potret yang komersil sebelum Daguerre melakukannya, dan bisa dianggap sebagai penemu fotografi. Tahun-tahun sesudah Daguerre dan Talbot, beruntun dilakukan orang pelbagai penyempurnaan: proses lembaran basah, proses lembaran kering, rol film modern, film berwarna, film bioskop, polaroid dan xerografi. Kendati banyak orang yang terlibat dalam pengembangan fotografi, saya anggap Louis Daguerre-lah orang yang paling banyak beri sumbangan pikiran. Tak ada sistem yang patut dipakai sebelum Daguerre dan sistem yang dikembangkannya paling praktis dan paling diterima secara luas. Lebih dari itu, penyiaran yang luas dari hasil penemuannya merupakan daya dorong buat penyempurnaan-penyempurnaan selanjutnya. Memang benar, fotografi yang kita kenal sekarang jauh berbeda dengan sistem Daguerre, tetapi walaupun misalnya tidak ada penyempurnaan apa pun, toh apa yang dibuat Daguerre sudah dapat dimanfaatkan.
Bagi anda yang mempunyai hobi fotografi, hasil karya berikut ini mungkin bisa menjadi salah satu alternatif karya seni. Sebelumnya di Indonesia sudah ada yang mencoba Light Photography. Ketika cahaya yang dihasilkan oleh senter atau lighter bisa dilukiskan ke rana kamera yang menangkap suatu objek gambar. Gambar yang dihasilkan oleh Light Photography bisa terlihat beda dan unik.
Kali ini ada yang berbeda. Jaringan sinyal Wi-Fi yang tidak kasat mata mampu menjadi sebuah hasil karya yang indah oleh Timo Arnall. Timo Arnall adalah seorang desainer dan visual artist yang menciptakan sebuah video dan sebuah seri fotografi yang menyajikan gambar jaringan sinyal Wi-Fi yang dengan alat ciptaanya bisa tertangkap kamera dan menghasilkan gambar yang indah.
Timo menggunakan teknik yang sama dengan Light Photography pada umumnya yaitu menyetel kamera dengan long-exposure times setting. Timo dan timnya bersenjatakan sejenis lampu bernama I-beams yang disusun dalam sebuah tongkat. Lampu ini akan menyala bila menangkap sinyal Wi-Fi yang ada di sekitarnya. Hidup matinya lampu ini yang akan ditangkap oleh Timo dengan kameranya.
Proyek ini bisa membuktikan bahwa tanpa kita sadari kita hidup didalam sebuah lingkungan yang penuh dengan sinyal dan gelombang. Sinyal dan gelombang yang tidak kasat mata sampai akhirnya Timo mengabadikannya. Walaupun Timo mengerjakan proyek ini disuatu malam di kota Oslo Norwegia, bukan tidak mungkin anda juga bisa menangkap sinya Wi-Fi di kota anda. Selamat mencoba.
Parabola, menjadi salah satu simbol yang paling dikenal dari kemajuan teknologi, perlu mendapat perawatan lucu dan berbagai seni dari individu yang kreatif di seluruh dunia, daripada warna putih polos vanili standard . Mari kita simak mekarnya “bunga-bunga dunia telekomunikasi”: