Minggu, 05 Februari 2012

Fraktal di Batik Jawa: Ketika Sains dan Tradisi saling Menginspirasi

Orang dapat saja menggambar ulang lukisan Michaelangelo (1475-1564) yang telah berusia lima abad di Chapel Sistine, Roma. Tapi suasana terasa berbeda ketika kita berada di bawah langit-langit tempat sang maestro melukis. Kita dapat membayangkan proses kognitif yang kompleks yang melingkupi makna spiritual dan estetis yang mendasari proses kreatif pelukisnya di situ. Karena gambar terkadang bukan sekadar gambar. Gambar lahir dari bagaimana proses kognitif yang mentransformasikan apa yang ditangkap sistem indera ke dalam buah tangan ke dalam bentuk yang terlukis, dan akhirnya bagaimana gambar tersebut dipersepsi dan diapresiasi oleh masyarakat tempat karya tersebut lahir. Sapuan kuas, teknik, dan media adalah hal yang penting dalam memahami proses kreasi budaya. Namun transformasi kognitif yang kompleks dalam melahirkan dan berperan dalam apresiasi sebuah karya adalah abstraksi yang melampaui nilai material apapun. Budaya memang direfleksikan melalui artifak, namun budaya memiliki pemaknaan yang melampaui representasi artifak.

Semua kriya dan buah daya cipta manusia dapat memberikan dua aspek. Ia dapat memberi aspek ruhaniah (makna vertikal hubungan manusia dengan khaliknya) dan aspek material (makna horizontal hubungan manusia dengan manusia lainnya). Demikian pula halnya dengan batik. Ketika batik menjadi bagian dari keseharian yang diproduksi secara massal dalam dekorasi sandang dengan memperhatikan segmentasi pasar yang ada, ia berdimensi horizontal. Namun di sisi lain, batik memberi banyak gambaran-gambaran yang memberi simbol-simbol terkait aspek filosofis yang terkait dengan berbagai aspek cara hidup (way of life). Motif batik “sawat”, misalnya yang digambarkan sebagai sayap disebutkan memberi simbolisasi akan “keteguhan dan ketabahan hati”, motif batik “semen” yang memberi gambaran akar-akaran tetumbuhan yang diyakini menggambarkan kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan alam semesta. Terkait makna-makna tersebut, desain batik dengan motif-motif tertentu juga memiliki berbagai anjuran etis dalam mengenakannya sebagai pakaian. Dalam upacara pernikahan tradisional misalnya, mempelai dianjurkan untuk mengenakan batik dengan corak Sidomulyo, Sidomukti, dan sebagainya yang menggambarkan kebahagiaan dan kemuliaan dengan harapan pernikahan tersebut akan membawa kedua pengantin ke hidup yang baru yang mulia dan bahagia.

Khazanah batik tradisional Jawa bahkan mengenal jenis motif “larangan”, yakni desain motif batik yang hanya boleh dikenakan bagi kalangan dalam keraton. Motif “parang rusak” merupakan contoh klasik di antara motif larangan yang tidak dianjurkan untuk dikenakan sembarangan karena menggambarkan identitas diri yang mengenakannya sebagai anggota keluarga keraton. Ornamentasi batik Jawa memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan keraton. Sebagaimana halnya dalam tradisi Eropa masa lalu, termasuk Cina kuno, istana merupakan pusat pengembangan intelektual. Namun tentu saja, aturan ini saat ini tak lagi sedemikian ketat. Hal ini langsung atau tak langsung tentu terkait dengan kehidupan sosial modern saat ini yang memungkinkan tradisi intelektual untuk tumbuh di banyak tempat dan tak hanya di keraton.

Jelas sekali bahwa batik adalah keutuhan kriya mulai dari proses pembuatan, ornamentasinya, hingga apresiasi dan etika mengenakannya. Batik tak bisa direduksi hanya dengan salah satu unsur tersebut. Sebuah perspektif menarik dari desain batik adalah bahwa batik memiliki sifat fraktal di dalamnya. Fraktal merupakan sebuah konsep matematis yang megemuka untuk memodelkan banyak hal yang tak dapat dimodelkan dengan geometri konvensional. Geometri konvensional mengenal dan memodelkan berbagai bentuk di alam dalam dimensi berbilangan bulat, misalnya dimensi 1 digambarkan oleh bentuk garis, dimensi 2 digambarkan oleh bentuk seperti persegi panjang, segitiga, dan sebagainya, dimensi 3 ditunjukkan oleb bidang ruang seperti kubus, piramida, dan sebagainya. Berbeda dengan itu, sebagaimana digambarkan matematikawan kenamaan, Benoit Mandelbrot, dalam bukunya The Fractal Geometry of Nature (1984), fraktal justru menunjukkan bahwa bentuk-bentuk di alam tidaklah berdimensi bilangan bulat. Kembang kol, bola kertas yang diremas, asap, garis pantai, merupakan obyek-obyek natural yang berdimensi pecahan. Garis pantai misalnya, bentuknya bukan garis (dimensi 1), dan bukan pula bidang datar (dimensi 2). Hal ini dikarenakan pola sepotong kecil (orde meter) garis pantai dalam foto udara memiliki kemiripan geometris dengan garis pantai yang panjang (orde kilometer). Ini juga terlihat pada disain batik. Kita bolak-balik, sepotong kain batik atau keseluruhannya, ia senantiasa memancarkan pola yang similar yang merupakan pola geometris yang sederhananya disebut fraktal.

Sifat ini muncul terkait disain pseudo-algoritmik batik: menggambar desain besar (klowongan), kemudian isen-isen, hingga diakhiri dengan harmonisasi untuk mengisi bagian-bagian yang kosong sebagaimana digambarkan oleh ahli batik tradisional, H. Santosa Doellah, dalam bukunya Batik: The Impact of Time and Environment (2002). Baikklowongan maupun isen dalam batik merupakan pola penggambaran motif dasar secara berulang dan hal ini menjadikan batik memiliki sifat kemiripan dalam banyak skala dan pola pandang.

Tapi sifat fraktal batik tak berhenti hingga di sana. Satu motif dasar batik pun memiliki karakter fraktal. Motif dasar “mega mendung” khas daerah pesisir Cirebon yang menggambarkan awan-awanan , misalnya, menunjukkan pola bahwa satu mega dapat digambarkan dari mega-mega lain yang lebih kecil. Ini merupakan sifat fraktal lain yang disebut sebagai Sistem Fungsi ter-Iterasi (SFI). Pola serupa ini terlihat pada banyak sekali motif tradisional khas batik, seperti penggambaran sawat, lar, kawung, parang rusak, dan sebagainya. Motif-motif dasar ini dapat dikonstruksi secara berulang dengan meng-ekstrak pola yang ada dengan beberapa persamaan matematis sederhana.


Contoh-contoh disain Batik Fraktal Komputasional: Motif Liris dengan Sistem Fungsi ter-Iterasi (kiri), Re-disain dengan algoritma fraktal komputasional paduan Motif tradisional Pringgodani dan Motif Semen (tengah), dan paduan inovatif Parang tradisional dengan motif generatif Fraktal (kanan).

SFI yang merupakan inovasi matematika kontemporer menunjukkan bagaimana satu motif dasar batik terbentuk sebagai pola iteratif yang berulang. Menarik, karena tentunya para pembatik tradisional hampir bisa dipastikan tidak menggunakan persamaan matematis apapun dalam menggambar motif dasar desainnya. Estetika untuk menggambar obyek yang dilihat sehari-hari merupakan modal dasar desain motif batik. Secara etimologis, proses batik, diwakilkan dengan kata “mbatik” yang secara etimologi dikenal berasal dari frase Jawa: “amba titik”, yang berarti “menggambar titik”. Akhiran “tik” dapat berarti “titik kecil” dan proses mbatik dapat diartikan sebagai proses penggambaran dengan canthingsecara repetitif sedemikian sehingga membentuk garis hingga akhirnya memberi pola tertentu sebagaimana dapat kita apreasiasi secara utuh. Secara singkat, kita selalu dapat merujuk bahwa mbatik merupakan representasi dari menggambar, melukis, atau menulis, dan ini tentu lebih bersifat estetis daripada matematis. Proses ini menghasilkan apa yang kita sebut sebagai pola generatif batik dan ini memberi pola fraktal yang sangat berbeda dengan pola geometri dalam matematika konvensional.
Sejarah peradaban modern menceritakan bahwa tradisi estetika Helenisme yang kebangkitannya dinyatakan semenjak kemunculan karya-karya Renaissance melalui karya-karya seni tinggi Michelangelo, Leonardo da Vinci (1452-1519), Raphael (1483-1520), dan lain-lain sarat dengan berbagai metanarasi geometri dalam berbagai konsep-konsep seperti perspektif, dan lain-lain. Tradisi inilah juga yang merefleksikan peradaban modern dan menjadi inspirasi bagi perkembangan sains dan teknologi yang kita kenal saat ini bahkan mewarnai kurikulum sekolah hampir di seluruh penjuru dunia. Sistem kognitif geometris dalam meng-indra alam sekitar merupakan tradisi pikir seni, sains, dan teknologi yang berkembang semenjak ber-abad yang lampau di hemisfer utara planit ini. Sebuah cara pikir yang bahkan berakar semenjak masa sebelum masehi di taman akademia filsafat Yunani, Plato, Aristoteles, Pythagoras, dan sederet nama inspirator primer peradaban modern.

Memahami desain batik sebagai sebuah proses refleksi penggambaran alam sekitar melalui fraktal menjelaskan bahwa pola kognitif tradisional batik tidak berpakem geometri sebagaimana halnya banyak tradisi penggambaran yang berkembang di Eropah. Kemutakhiran matematika dan teknologi komputer menjelaskan bahwa geometri fraktal yang lebih kompleks justru menjadi kerangka pikir yang digunakan dalam mentransformasikan apa yang diamati di sekitar dengan apa yang kemudian tertuang sebagai bentuk kriya dan estetika.

Kesadaran akan bentuk-bentuk fraktal dalam memahami alam semesta telah banyak menginspirasi berbagai inovasi sains dan teknologi dalam rangka melayani kesejahteraan manusia. Teori matematika fraktal secara kontemporer telah memberi perspektif baru sains dalam memandang mulai dari fisika elementer hingga jagat raya, mulai dari model gelombang dalam kerak bumi hingga model yang baik untuk mengelaskan fluktuasi harga-harga pasar dalam sistem ekonomi, mulai dari peramalan cuaca hingga perilaku sosial dan psikologi terkini. Semua fenomena yang kita alami ternyata sangat kompleks dan model fraktal ditambah kemajuan teknologi komputer telah memberi khazanah baru bagi peradaban manusia di awal milenium ini untuk mampu menjinakkannya. Kenyataan ini memberi kekaguman pada kita bahwa secara sadar atau tidak sadar, kriya batik sebagai sebuah aspek tradisi di Indonesia justru telah mengakuisisi pola pandang yang sangat kontemporer ini. Nenek moyang kita yang arsitek batik tradisional tak terpaku pada geometri sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengakuisisi fraktal.

Lebih jauh jika geometri merupakan salah satu dari ibu berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang mulai sains alam hingga berbagai teori-teori sosial ekonomi, maka kita menjadi insyaf bahwa pola kognitif orang Indonesia bisa jadi memiliki sesuatu juga yang dapat memberikan inspirasi bagi banyak kebuntuan wawasan sains alam dan sains sosial saat ini. Penggalian kebijaksanaan dalam tradisi Indonesia lebih jauh memberi harapan bahwa komunikasi yang apik antara sains modern dengan berbagai tradisi cara pandang kita dapat memberikan sumbangsih nyatanya bagi kemajuan yang lebih lagi peradaban manusia secara umum. Apresiasi, pelestarian, dan (yang lebih penting) penggalian komprehensif atas berbagai aspek budaya Indonesia, menjadi hal yang urgent. Mencintai budaya tradisi Indonesia bisa jadi suatu saat memberi implikasi yang positif untuk memberi inspirasi baru bagi peradaban dunia.

Pertanyaan lanjutannya saat ini adalah, apa yang bisa diperoleh melalui pemahaman ini untuk pengembangan batik itu sendiri? Pemodelan algoritmik dan matematis dalam sifat fraktal batik telah memberi peluang bagi kita untuk mengakuisisi teknologi komputasi sebagai alat bantu untuk mendorong kreativitas yang lebih lagi dalam inovasi batik tradisional. Pola pseudo-algoritma desain batik dan pola Sistem Fungsi ter-Iterasi (SFI) memberi kita peluang untuk melakukan pembangkitan pola dan motif-motif baru yang dapat memperkaya cakrawala inovasi batik itu sendiri. Semua pola komputasi yang kita tumbuhkan untuk mencari sifat fraktal pada batik dapat dibalik arah kerjanya menjadi sumber kreativitas untuk menggenerasi motif baru. Pemahaman akan geometri fraktal telah melahirkan sebuah interaksi matematika dan seni beberapa tahun lalu, yang disebut sebagai Seni Generatif. Di sini, batik dapat menjadi sebuah tren seni generatif baru yang unik dan menarik karena menjadi sebuah monumen bagaimana tradisi barat dan timur saling meng-inspirasi satu sama lain secara harmonis.

Berbagai disain baru dapat dilahirkan melalui Batik Fraktal Generatif. Batik Fraktal Komputasional dapat diakuisisi untuk melakukan berbagai re-desain atas banyak motif dasar yang dapat bersumber dari motif-motif dasar batik yang di-capture dari desain tradisional asli, atau berbagai peniruan regeneratif motif dasar dari Sistem Fungsi ter-Iterasi, atau bahkan dari pola-pola fraktal yang pada dasarnya bukan motif dasar batik namun memiliki kesamaan struktur dengan pola batik yang kita kenal. Dengan mengetahui persamaan matematis dasar yang menghasilkan bentuk-bentuk sawat, misalnya, maka modifikasi kecil parameter-parameter dari variabel-variabel fungsi yang ada, secara komputasional kita dapat memunculkan berbagai bentuk “sawat-sawat” baru yang memperkaya khazanah batik.

Batik Fraktal menunjukkan bahwa desain dan motif batik ternyata menyimpan banyak hal yang mungkin terlupa atau tersimpan selama ini dalam sistem kognitif perancang batik. Konsep estetika yang terkandung dalam batik memiliki pola geometris yang unik dan justru memiliki titik temu setelah geometri akhirnya menyadari sifat fraktal setelah ratusan tahun menjadi fundamen sains dalam peradaban kita. Dari sisi klaim-klaim dan perdebatan tentang asal-muasal batik, ketika ditunjukkan bahwa teknik serupa ada juga di Afrika, Cina, atau bahkan pematenan dan klaim oleh berbagai oknum, menjadi tidak perlu memberi kerisauan pada kita. Batik dalam esensi keseluruhannya tak bisa direduksi sebagai motif belaka dan atau sebagai proses belaka. Batik memiliki konsep yang utuh dan unik. Penggalian akan makna dan bagaimana hal ini membudaya secara turun-temurun tentu sayang untuk berhenti hanya sampai di sini. Upaya ini mesti diteruskan dengan paduan apik sains dengan teknologi yang lain lagi untuk harmoni yang saling berinspirasi dengan kekayaan budaya tradisi Indonesia. Di sisi lain, wacana Batik Fraktal membuka peluang akan batik yang senantiasa terus berkembang dengan konteks kekinian, ketika komputasi telah sedemikian memasyarakat.




Sebuah karya hasil workshop yang dilakukan Sekolah Menengah Seni Rupa SMKN 14 Bandung bersama Tim Peneliti Fisika Batik Bandung Fe Institute atas interpretasi sifat fraktal pada batik Jawa.

Batik Fraktal memperluas cakrawala batik, dan kita tersadarkan bahwa batik pun belum selesai inovasi dan kreativitas kita sebagai pewaris bangsa masih dinanti demi bangkitnya ekonomi bangsa yang berbasis kreativitas dan inovasi. Mencintai budaya Indonesia suatu saat akan berarti memberi inspirasi bagi dunia.
readmore »»  
info unik (242) fakta unik (144) unik (98) musik (69) karya seni (67) aneh (62) Fakta Aneh (61) Inspirasi (40) Lifestyle (40) seni (35) Photo Unik (26) budaya (25) News (20) sejarah (20) Humor (6) Unique (1)