Kamis, 16 Desember 2010

Seni Jalanan: Sebuah Kesaksian Atas Kemajemukan

breaking-the-wall1
Seni jalanan atau lebih karib disebut street art, hari ini memang kian majemuk menampakkan parasnya. Ia, sepertinya mewakili semangat zaman yang serba mungkin. Nilai estetika di dalam seni sendiri, semakin hari semakin terbuka menyambut berbagai gejala perubahan sosial serta berkembangnya posisi  sub kultur yang makin menguat di ranah urban.

Sementara itu, konsep tentang subversi, sebagai satu-satunya mantra suci yang dipakai oleh penggiat atau seniman street art tempo dulu – biasanya memakai bentuk seni graffiti - yang mengusung agenda-agenda politis di ruang publik, menyuarakan ekspresi liar dan pembelaan kepada kelompok yang “dimarginalkan” tidak lagi menjadi isu dominan lagi. Meskipun kelompok ideologis serta individu-individu seperti mereka, masih saja diwariskan dari generasi ke generasi, terus saja hadir dan berekspresi di kota-kota besar dunia.

Yang sering terjadi, dalam prespektif tindakan vandalisme yang disematkan pada aktifitas perupa jalanan lebih pada kasus tuduhan pengotoran tembok kota dan ruang publik spesifik yang  berseberangan dengan kebijakan pemerintahan lokal tentang tata kota.

Di lain pihak, di berbagai belahan dunia, sudah jamak diketahui pula lembaga-lembaga yang berafiliasi atau di bawah payung pemerintah, misalnya seperti NEA (National Endowment for The Arts) di Amerika Serikat berkolaborasi dengan LSM setempat seringkali mengundang dan mengakomodir kegiatan para seniman jalanan, merangkulnya untuk bersama-sama mengkampanyekan agenda-agenda milik pemerintah; seperti demokratisasi, pluralisme dan hak asasi manusia dengan label initiative art project dll.   

Pada sudut pandang industri seni, paras street art kian semarak, atau boleh dibilang lebih sumringah menyambangi alaf anyar. Jika beberapa dekade lalu Basquiat sudah “mementaskan diri” dari jalanan di Bronx untuk kemudian karyanya hadir di rumah lelang Sotheby’s dan didisplay di MOMA, demikian pula Shepard Fairey dengan nama jalanan Obey yang sepuluh tahun lalu “bergerilya” di tembok-tembok kota di Washington DC, akhirnya hari ini “duduk manis” dalam satu diskusi panel dengan Bonham Art Auction. Para seniman jalanan sohor lain di dunia barat,  seperti Mr. Brainwash, Invader sampai Banksy sedang menunggu antrian karyanya kelak akan demikian mahal di galeri komersil dan menjadi incaran para kolektor.

breakin_the_wall2

Bagaimana dengan lembaga seni formal dan prestisius lain? Galeri Nasional milik pemerintah Inggris telah memulainya, membuka gerbangnya lebar-lebar. Tate Modern, London, pada 2008 lalu dengan tajuk Street Art memberi ruang ekspresi lebih luas untuk seniman-seniman jalanan yang eksis hari ini. Mereka mengundang dan menyeleksi karya-karya dari seluruh pelosok dunia dan memutuskan 6 kelompok seniman yakni Blu dari Bologna, Itali; kelompok Faile dari New York, USA; JR dari Paris, Perancis; Nunca dan Os Gêmeos, keduanya dari São Paulo, Brazil serta  Sixeart dari Barcelona, Spanyol untuk bersama-sama ditampilkan.

Dengan menyigi berbagai peristiwa di atas, kita bisa mahfum bahwa seni jalanan era sekarang memiliki wujud yang plural, tak ada sebuah klaim yang benar-benar sahih untuk mendefinisikan apa dan bagaimana seharusnya seniman dan karya street art  yang paling ideal itu? Dan segeralah, pemahaman perlawanan terhadap segala sesuatu yang mapan dan semangat pembokaran batas-batas high art dan low art perlahan-lahan mungkin saja dianggap mulai usang. Keberadaan genre seni ini, adalah lebih pada sebuah sikap atau pilihan para perupa untuk berkarya dan berekspresi secara bebas dan kebetulan ruang yang dipilih adalah di jalanan.   


Sreet Art di Indonesia
Di tanah air, keberadaan seni jalanan (graffiti, poster—stencil art dan mural) tidak bisa dilepaskan pada perjalanan sejarah bangsa ini. Seni dianggap bagian integral dalam menyikapi kehidupan dan dinamika politik. Meskipun dulu, tak dikenal sebutan seni graffiti, karena hanya terkait pada seni yang berorientasi pada propaganda melawan penjajahan.

Basuki Resobowo salah satu eksponen pelukis Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dalam bukunya “Bercermin di Muka Kaca—Seniman, Seni & Masyarakat” mengaku, jauh sebelum ia bergabung dengan LEKRA,  pada bulan Agustus  tahun 1945 -- diinspirasi oleh aktifis politik dan pelukis mural Diego Revera asal Mexico-- pukul 6 pagi tanggal 17, ia telah mencorat-coret tubuh gerbong kereta api jurusan Jakarta-Surabaya via Semarang.

Jadi, beberapa jam sebelum Proklamasi dibacakan Soekarno, Basuki telah memulai gema kemerdekaan RI dengan coretan ala graffiti ini. Sedangkan poster Boeng Ayo Boeng yang dilukis bareng antara Affandi, bersama Sudjojono dan teksnya oleh Chairil Anwar pada masa revolusi bisa juga menjadi “penanda awal” seni jalanan yang digandakan secara luas.

Jika kita amati dalam soal bentuk dan medium, street art hari ini mengalami evolusi gradual perubahan bentuk dari para perintisnya. Di Indonesia setelah masa Basuki cs, segera kita mengenal bentuk-bentuk seni jalanan seperti graffiti, poster, mural atau stencil art yang sangat khas pada tahun 70 an, yang berkelindan dengan pengaruh pop art dari Eropa Barat atau Amerika serikat. 

Yang kini, dengan semangat “retro”, para perupa jalanan kita memungut kembali jenis yang demikian dan  akhirnya menjadi semacam bentuk klasik seni jalanan yang kita kenal di Indonesia. Tampilnya urban art, di tanah air yang dekat dengan karya seni di ruang publik, tentu mewarnai perjalanan tersendiri bagi seni jalanan, yang sejatinya adalah hasil “hibriditas” dan keniscayaan pengaruh bentuk seni-seni sebelumnya atau seni kontemporer --- menggejala dalam dua dekade terakhir--- dengan merespon budaya dan kehidupan kontemporer di wilayah kosmopolit urban. 

Sementara itu, para seniman street art menentukan nasibnya sendiri, bereksplorasi lebih lanjut bergabung dengan kantung-kantung perupa yang berbasis di jalan, atau melakukan kerja kreatif sendiri di studio, kemudian turun ke jalan dan berinteraksi dengan siapa saja, merespon lingkungan dan fasilitas apapun yang tersedia dengan  tetap memakai ciri dan identitas independen atau memilih berkolaborasi dengan lembaga seni atau non seni dari manapun, tidak terkecuali pemerintah.

Mereka berlatar belakang tak hanya pelukis otodidak, namun lulus dari akademi seni formal, seperti IKJ, ITB maupun ISI atau perguruan tinggi di seantero tanah air. Menerima pesanan pembuatan karya mural atau tetap berinisiatif sendiri dengan kelompoknya, memproduksi t-shirt dan menjualnya di distro-distro, membuat ilustrasi buku dan komik atau memproduksi desain-desain merchandise sendiri sekaligus menjualnya. Mempraktikkan dan mengerjakan industri figurine, toys, sneaker dan desain-desain wardrobe serta untuk brand-brand produk retail tertentu.

Mereka, pada waktu lain, membuat proyek-proyek street art yang didanai lembaga swasta nirlaba di bidang seni rupa atau lembaga advokasi masyarakat yang disponsori yayasan seni besar dari luar negeri. Kemudian, membangun jejaring dengan kelompok-kelompok seniman street art internasional via internet dan saling bertukar karya dan meresponnya pada event-event khusus, dan tentu saja: melakukan pameran-pameran di galeri seni komersil. 

Hasil karya mereka di jalanan, menjadi demikian majemuk, karena pengalaman kerja kreatif mereka yang memang beragam, lintas disipliner dan mengadopsi berbagai sub kultur global dan sekarang memulai mengintroduksi medium anyar seperti 3d illusionist painting, 3d video projection, video art, produk - produk daur ulang sampah industri, patung-patung vinyl toys di luar ruang, merespon rambu jalanan dan menggabungkannya dengan instalasi jalanan serta bentuk lain-lainnya.



Breakin The Wall dan Sebuah Kesaksian
Breakin The Wall, adalah eksibisi yang cenderung bisa dikatakan sebagai sebuah proyek seni, yang pada kesempatan kali ini disponsori oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Wisata & Budaya DKI, dengan mengagas ide utama untuk melihat, menelisik dan menyaksikan bagaimana para perupa dan komunitasnya dengan medium serta ekspresi street art menyodorkan karya-karya yang dipilih para senimannya sendiri. 

Dalam pameran ini, Kurator setelah mengamati aktifitas bersama kelompok para seniman tersebut, selama beberapa waktu, memutuskan untuk mengundang enam komunitas seni rupa untuk merespon tema Breakin The Wall. Mereka adalah Atap Alis (Jakarta), Xserut (Tangerang), Lintas Melawai (Jakarta), Popo dan Kampungsegart (Jakarta), Amel N friend (Bandung) serta kelompok Mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Sejak awal, tema Breakin The Wall dihasratkan sebagai upaya untuk memahami seni jalanan sebagai sikap alternatif untuk memilih dari kemungkinan-kemungkinan anyar bentuk seni yang tumbuh bebas dan beragam wujudnya di jalanan. Bahkan, menemukan sebuah karakter yang khas jenis seni jalanan yang eksis di Indonesia dan siapa saja komunitas yang mewakilinya saat ini. Dalam pameran ini, dipilih ruang terbuka / publik yang digunakan, yakni halaman Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Tak ada niatan untuk membatasi dan mengekang ekspresi ruang kreasi. Kurator dari permulaan, telah mengajak mengamati dan meneliti dengan mengintrodusir tempat yang dihadiri seluruh koordinator komunitas partisipan eksibisi dan tempat tersebut memang dianggap layak untuk disebut ruang publik yang lebih cair dan tidak terlalu eksklusif, siapa saja bisa hadir dan menyaksikan presentasi pameran.

Atap Alis, komunitas yang lahir di Jakarta empat tahun lalu, menurunkan sekitar sepuluh pekerja seninya dengan membawa materi boneka dan mainan-mainan plastik, kaleng dll, hasil dari mendaur ulang sampah industri kering yang di install di pohon beringin besar. Mereka, membawa pesan politis dengan judul Koma, yang bisa menggiring asosiasi benak kita pada imej partai politik yang dianggap “angker” pada era Orde Baru.

Komunitas dari Tangerang, Xserut, bermain-main dengan wujud seni jalanan yang dianggap baru, dan sekarang menjadi trend di beberapa kota besar dunia seperti New York, London atau Amsterdam, yakni 3d illusionist painting. Lukisan berformat besar yang dihampar di lantai dengan keinginan membawa  ilusi optis audiensnya dilihat dari sudut tertentu. Mereka, berupaya “menipu” sudut pandang struktur bangunan Teater Jakarta dan membandingkannya dengan imej ilusif di lukisan tersebut dengan judul Negeri Ilusi.  

Lukisan 3d illusion juga digunakan sebagai strategi bertutur visual oleh komunitas Lintas Melawai bersama tiga orang anggotanya, yakni para pelukis yang biasanya menerima pesanan potret di jalan Lintas Melawai atau di studionya. Mereka, memilih sosok Mbah Maridjan dalam In Maridjan We Trust, yang sedang terlentang dalam ukuran raksasa untuk merespon fenomena terpinggirkannya spiritualitas lokal dan maraknya fundamentalisme keyakinan beragama. 

Dari jenis graffiti atau mural, kita akan bertemu dengan Popo dan Kampungsegart yang membutuhkan sekitar sepuluh anggotanya untuk mengisi tembok putih di sekeliling sebelah kanan bangunan Teater Jakarta. Mereka sepakat untuk mengusung judul Fun, dengan fokus pada tema perkembangan dunia sinema elektronik kita dan segala masalah yang membebaninya.

Kita akan menyaksikan pula, perwakilan dari Bandung, Amel N Friens, komunitas yang baru terbentuk dan sementara ini diwakili nama dari salah satu rekan mereka. Kelompok ini, membuat sebuah “patung” atau tepatnya balon bertumpuk dengan imej yang jenaka dengan judul: Bam Bam Go! Keanehan dari wujud dan materi seni jalanan mereka menggugah rasa ingin tahu. Sehari-harinya, mereka memang para perupa animamix, yang biasa mencipta mural, ilustrasi, desain produk-produk komersil dan lukisan dengan merujuk pada imej-imej animasi dan komik.  

Sedang yang terakhir, kelompok mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memilih untuk mengikuti medium lukisan 3d illusion, dengan judul: Sinterklas, menggelitik, menampilkan lukisan realis besar bersosok Gayus, mafia pajak di Indonesia dan sindiran karikatural tentang bagaimana seorang pengemplang atau dermawan bisa saja menjadi satu profil yang paradoks.

Jika kita perhatikan, dari sekian komunitas yang mempresentasikan karyanya dapat dikatakan bahwa mereka secara bebas memilih tema, materi maupun perwujudan ekspresi seni dengan pendekatan dan cara yang berbeda. Seni jalanan, secara substansi memang hendak berpihak pada khalayak yang lebih luas dimana seni rupa dirayakan secara egaliter dan merujuk pada kebudayaan kontemporer hari ini, yang membuka diri terhadap kemajemukan identitas dan hari ini kita bersama menjadi saksi atas kehadirannya. 

0 komentar:

Posting Komentar

info unik (242) fakta unik (144) unik (98) musik (69) karya seni (67) aneh (62) Fakta Aneh (61) Inspirasi (40) Lifestyle (40) seni (35) Photo Unik (26) budaya (25) News (20) sejarah (20) Humor (6) Unique (1)