Jumat, 07 Desember 2012

The Exploited



The Exploited dibentuk oleh mantan tentara Wattie Buchan - Vokal dan John Duncan - Guitar di awal 1980. John kemudian mendapat julukan Big John. Mereka juga punya dua anggota lain Dru Stix - Drum dan Danny - Bass. Setelah beberapa saat mereka merilis debut Ep Hidup Angkatan Darat. Ep ini naik ke posisi ke-35 di chart indie. Hal ini juga becam tunggal minggu di Majalah Suara.

Band ini melakukan banyak pertunjukan, dan Wattie mengenakan swastika di atas panggung. Yang membuat banyak orang berpikir Exploited sebagai band fasis ... dan mereka kita TIDAK! Para pertunjukan adalah verry kekerasan dan banyak dari mereka tured ke kerusuhan.

Pada tahun 1981 The Exploited muncul di kompilasi album musik Oi! Album. Lagu-lagu yang mereka telah di kompilasi itu saya masih percaya pada anarki dan berita harian. Mereka juga merilis Ep kedua mereka disebut Exploited Barmy Army. The Exploited sekarang memiliki kerumunan berikut yang mereka sebut The barmy army (Tentara sinting).

Pada bulan Maret 1981 The Exploited menandatangani kontrak dengan label Secret rekaman, dan tiga minggu kemudian mereka merilis Ep Dogs Of War . Mereka juga merilis sebuah album live yang disebut On Stage.

Kemudian pada tahun 1981 mereka merilis album studio mereka Punk´s Not Dead. Nah itu bukanlah album nyata, itu berisi beberapa materi hidup dan beberapa materi studio baru. Dan beberapa minggu kemudian mereka merilis Ep Dead Cities. Mereka sekarang muncul di Top Tv Tampilkan dari The pops dengan lagu Dead Cities. (This Tv apperiance is legendary.) Dan setelah itu tidak ada yang apperiance akan dengan catatan mereka karena semua orang berpikir bahwa mereka terjual habis. Sehari sebelum Top Of the Pops mereka menjual 15000x dalam satu sore Ep Dead Cities, dan sehari setelah mereka menjual 50x. The Exploited keluar di Tur Dead Cities yang membawa band ini di seluruh Eropa.

1982 mereka realeased Serangan Ep / Alternatif dan Album Troops Of Tomorrow. Pasukan AlbumTroops Of Tomorrow mencapai 10 besar di chart album. Kemudian mereka merilis Ep Computers Don´t Blunder. Mereka juga pergi tur pertama mereka Kami saat ini. Pada saat ini drummer mereka Dru Stix ditangkap karena perampokan bersenjata dan dimasukkan ke dalam penjara selama 7 tahun. Drummer baru adalah Danny tapi dia tidak bertahan lama (dia adalah seorang banci sialan) dan digantikan oleh Watties saudara Willie.

Sekarang band ini berganti label rekaman untuk Pax. Mereka ditandatangani untuk Ep dan sebuah Album. Sekarang pemain bas juga keluar dari band dan digantikan oleh Billy.John Dunchan juga memutuskan untuk meninggalkan band setelah merekam Ep dan the Lets Start Argha Sebuah album War. John digantikan oleh Carl. Dan Carl kemudian digantikan oleh Wayne.

Pada tahun 1985 mereka merilis album Horror Epics . Mereka juga merilis album live bertajuk Live At The Whitehouse.

Pada tahun 1986 mereka merilis 12 pertama mereka "-single Jesus Is Dead Mereka juga merilis lagi album called Live and Loud.

Pada tahun 1987 mereka merilis album Death Before Dishonour. Kedua pemain bass dan gitaris adalah saat ini digantikan oleh Smeeks - bass dan Gary - gitar.

Pada tahun 1988 mereka merilis kedua mereka 12 "- single War Now.

Pada tahun 1990 mereka merilis album The Massacre. Dan setelah beberapa tahun diam dan rumor yang mengatakan Wattie telah mati, Exploited merilis album baru pada tahun 1996 disebut Beat The Bastards. Untuk album ini mereka telah berubah anggota band ini sepenuhnya untuk: Wattie - vokal, Willie - drum, Jim - bass, Jamie - gitar.
readmore »»  

Menjadi Seorang Vegan Di Dunia Non-Vegan

Berikut disampaikan 63 cara menjalani gaya hidup vegan dan hijau yang dapat kita terapkan setiap saat.
MAKANAN, MINUMAN dan PRODUK PEMAKAIAN SEHAT dan HIJAU

1. Jangan membeli sesuatu yang terkait atau berasal dari hasil pembunuhan atau penyiksaan makhluk hidup.

2. Pilihlah makanan, minuman, produk untuk pemakaian yang murni mengandung unsur bahan nabati dan terbebas dari unsur hewani atau kimiawi. Makanan termasuk kudapan (snack), kue, roti, makanan ringan lainnya, pastikan kandungannya bebas dari unsur hewani. Minuman yang perlu dihindari termasuk minuman yang mengandung susu dan alkohol. Produk pemakaian seperti sepatu, dompet, tali ban, kosmetik, dan lain-lain tidak terbuat dari kulit hewani atau mengandung unsur hewani lainnya. Keputusan paling utama sebelum
membeli sesuatu adalah membaca kandungan bahan yang tercantum di artikel atau bertanya. Apabila ragu, sebaiknya cari alternatif lainnya.

3. Konsumsi bahan makanan yang segar, hindari makanan yang sudah diolah seperti makanan dalam kalengan atau makanan yang sudah diawetkan.

4. Belilah produk dari hasil pertanian dan perkebunan setempat atau produksi lokal. Untuk makanan dari hasil pertanian dan perkebunan, ataupun produk pemakaian seperti kosmetik, carilah yang berunsur organik atau hydroponik.

5. Lakukan segala cara untuk memakai ulang botol kemasan, botol minuman, dan wadah penyimpanan lainnya.

6. Belilah dalam kemasan yang besar, atau isi ulang. Selain jauh lebih murah juga menghindari pembuangan kemasan yang tidak perlu dan hanya memperburuk tumpukan sampah non-organik.

7. Jangan memakan makanan siap saji (fast food) yang menggunakan piring, sendok makan sekali pakai. Karena restoran fast food demikian merupakan penghasil sampah terbesar, selain itu konsumsi fast food juga tidak baik bagi kesehatan kita.

8. Bawalah tas belanja tersendiri yang bisa dipakai berulang-ulang, bahannya bisa terbuat dari kain atau bahan nabati lainnya, seperti anyaman dari tali rami, tali daun pisang, dll. Dengan mengurangi tas plastik, berarti Anda juga ikut mengurangi timbungan sampah non-organik. Tas plastik yang tertimbun di tanah perlu ribuan tahun baru bisa terurai.

9. Bawalah botol minuman sendiri, hindari membeli minuman dalam kemasan botol, apabila tidak mendesak sekali. Botol minuman plastik yang dibuang sembarangan juga merusak lingkungan.

10. Beralilah menyajikan minuman kepada tamu dalam gelas, hindari sajian dengan minuman kemasan atau air mineral gelas. Hindari juga penggunaan gelas sekali pakai.

11. Membeli sesuatu atau berbelanja di sekitar lingkungan atau pasar tradisional, karena akan lebih hemat bahan bakar.

12. Perbanyak masak di rumah atau bawa makanan ke kantor, karena untuk keluar makan di rumah makan selain menghabiskan bahan bakar dan juga jauh lebih murah apabila bawa makanan sendiri.

RUMAH dan LINGKUNGAN HIJAU

13. Tanam pohon di sekitar lingkungan kita. Ajak serta tetangga untuk menanam bibit tanaman di sekitar tempat tinggal, kantor, atau lokasi-lokasi penanaman bibit pohon tertentu seperti di pantai, sekolahan, atau taman umum.

14. Lakukan karya bhakti pembersihan lingkungan, bersihkan parit atau selokan di sekitar perumahan, pengaturan pembuangan sampah organik dan non-organik.

15. Manfaatkan sampah non-organik seperti plastik kemasan dan botol minuman untuk dipakai sebagai bahan kerajinan, atau mengumpulkannya secara terpisah untuk diberikan atau dijual kepada pemulung.

16. Membuat lubang biopori di pekarangan rumah atau di taman umum lingkungan tempat tinggal, dan bisa dimanfaatkan untuk membuang sampah organik. Setelah melewati masa pembusukan di dalam lubang biopori, sampah organik tersebut bisa dipanen untuk pupuk tanaman.

17. Matikan oven, pemanas, seterika beberapa menit sebelum waktunya. Ornamen pemanas di peralatan tersebut masih mampu bekerja apabila dicabut dari listriknya.

18. Periksa AC jangan sampai ada kebocoran, turunkan suhunya, jangan biarkan ada celah yang terbuka dalam ruangan ber AC. Pergunakan timer pada waktu tidur, misalnya di set jam menjelang pagi, akan mati sendiri AC nya. Pergunakan AC yang hemat energi.

19. Pergunakan listrik yang bersumber dari energi surya untuk pemakaian lampu, pemanas air, dan peralatan listrik lainnya.

20. Serahkan rancangan rumah kepada arsitek atau konsultan yang ahli rumah hijau, sehingga rumah kita akan terkesan asri, juga akan hemat pemeliharaannya. Rumah hijau adalah rumah yang mengutamakan pemakaian bahan daur-ulang, pencahayaan matahari, pemakaian energi surya, pengolahan air habis pakai agar bisa dipakai ulang untuk berbagai kebutuhan, tanaman pelindung dan penyerap CO2 di sekitar pekarangan.

21. Matikan lampu dari sumbernya, dan kalau mematikan TV, komputer, dan peralatan listrik lainnya yang kabelnya tersambung ke saklar, pastikan sumber listriknya di saklar sudah dimatikan.

22. Jangan biarkan kran, tempat menampungan air, tabung toilet mengalami kebocoran, sehingga air menetes keluar terus selama 24 jam. Bayangkan berapa banyak air yang terbuang selain boros biaya juga terbuang air bersih dengan percuma.

23. Pergunakan peralatan listrik yang hemat energi, seperti lampu, rice cooker, TV, AC, dan peralatan listrik lainnya. Sudah terdapat banyak peralatan rumah tangga yang hemat listrik di toko-toko. Belilah yang hemat energi.

24. Maksimalkan pencahayaan surya, buka tirai jendela, pergunakan warna yang terang di dalam rumah.

25. Segera mencabut kabel listrik dari sumbernya apabila sudah selesai dipakai, seperti untuk mengisi ulang baterai telpon genggam, seterika, pencukur eletrik, games, kamera, dll.

26. Hindari membuka pintu lemari es lama-lama karena setiap kali pintu lemari es dibuka, diperlukan tarikan listrik yang tinggi untuk mendinginkan kembali suhunya.

27. Pergunakan timer untuk menghidup dan mematikan lampu di pekarangan, sehingga akan terhindar dari lupa mematikan di pagi hari karena kesiangan bangun.

28. Potong makanan dalam ukuran yang lebih kecil, karena ukuran makanan yang kecil akan lebih sedikit menggunakan energi untuk memasaknya.

29. Pergunakan air dingin untuk mencuci, dan cucilah dalam jumlah yang banyak. Hindari pemakaian mesin cuci apabila hanya mencuci dalam jumlah yang sedikit.

30. Pergunakan bahan-bahan detergen, pembersih lantai, sabun cuci, shampo, dan bahan-bahan lainnya yang ramah lingkungan.

31. Hindari menggunakan kaleng obat nyamuk semprotan, ataupun obat nyamuk bakar. Lebih baik mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah daripada menyemprot obat nyamuk di dalam rumah selain tidak sehat buat keluarga juga boros. Pasang kasa jendela, pintu kawat nyamuk, dan bersihkan lingkungan dalam rumah supaya tidak menjadi sarang nyamuk.

32. Pergunakan ulang perabot rumah tangga Anda, dan jaga supaya tetap awet dipakai. Hindari kebiasaan berbelanja perabot baru padahal perabot lama masih bisa dipakai.

33. Hindari penggunaan deodoran atau minyak rambut semprot yang mengandung bahan aerosol karena bahan tersebut juga merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam pencemaran lingkungan.

34. Sekali-kali, lakukan penjualan lewat garasi atau disumbangkan ke panti asuhan atau fakir miskin lainnya untuk membersihkan peralatan, mainan, baju, perabot yang sudah tidak dipakai lagi.

TEMPAT KERJA DAN SEKOLAH HIJAU

35. Matikan lampu apabila masih terang pencahayaan dari luar, atau sedang tidak berada di dalam ruangan.

36. Pergunakan kertas secara bolak-balik untuk fotocopy ataupun untuk cetak. Hindari cetak di printer apabila tidak dibutuhkan. Sebaiknya kirim laporan dan memo melalui intranet kantor atau melalui email.

37. Himbau dalam bentuk catatan kaki di setiap email yang dikirim keluar agar tidak mencetak email tersebut apabila tidak benar-benar dibutuhkan, demi mendukung lingkungan dan penghijauan.

38. Lakukan rapat dengan menggunakan bahan presentasi, dan hindari fotocopy bahan presentasi. Kirimkan kepada peserta rapat dalam bentuk softcopy, selain bisa disimpan juga menghemat banyak biaya kertas dan listrik untuk fotocopy.

39. Hindari keluar makan siang, khususnya di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya, selain habis waktu di jalan karena macet, boros energi, dan juga lebih mahal kalau makan di luar. Pesan makanan untuk diantar ke kantor, bawa makanan dari rumah, atau makan di food-court dekat kantor yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.

40. Pergunakan elektrok banking untuk transaksi perbankan, baik melalui ATM, internet banking, mobile banking. Hindari mencetak struk atau bukti transaksi apabila tidak dibutuhkan.

41. Untuk pabrik dan industri yang berproduksi secara massal, pergunakan sumber energi yang berasal dari surya dan angin. Pabrik-pabrik dengan ruangan yang terbuka dan manfaatkan ventilator angin untuk mengurangi pemakaian AC atau kipas angin di dalam ruangan pabrik. Berikan penghargaan kepada karyawan yang disiplin dalam penghematan energi listrik, air, dan bahan-bahan kertas lainnya. Dan sebaliknya, kepada karyawan yang teledor, tidak mematikan peralatan listrik sehabis pakai, berikan sangsi
peringatan.

42. Galang kelompok pencinta lingkungan atau kelompok “Go Green” dalam lingkungan kantor atau pabrik dengan melakukan berbagai kegiatan penghijauan, bersepeda pada hari tertentu untuk ke tempat kerja, melakukan gerak jalan dan terlibat dalam aktivitas lingkungan hidup.

43. Perlakukan satu hari tidak kerja untuk acara pembersihan, yaitu membersihkan segala berkas, kertas-kertas yang tidak dipakai, laporan-laporan yang sudah lama, bukti-bukti pembukuan yang sudah daluwarsa. Semua berkas tersebut bisa dimusnahkan, apabila ada rahasianya, atau ditimbang untuk dijual kepada pemulung.

44. Lakukan rancang bangun atau renovasi bangunan sekolah yang memperhatikan aspek ramah lingkungan, pergunakan energi surya untuk penerangan, perhatikan ruangan kelas sekolah apabila istirahat agar matikan AC dan lampu, lakukan pembersihan lingkungan sekolah, undang pihak-pihak luar yang pakar tentang pemanasan global untuk melakukan presentasi di sekolah dan mereka akan senang melakukannya tanpa dipungut biaya, hindari fotocopy bahan pelajaran melainkan bisa kirimkan bahan pelajaran via email atau
simpan di USB atau bahan penyimpan file lainnya yang dibawa siswa melalui komputer di meja guru, setiap guru dibekali laptop untuk penjelasan pelajaran sekolah dan pengajaran melalui presentasi dari laptop dan bahan presentasi bisa dikirimkan via email kepada siswa atau digandakan melalui media penyimpanan USB atau disket.

PERJALANAN HEMAT dan HIJAU

45. Jalan bersama dengan keluarga apabila berangkat kerja, misalnya mengantar anak sekolah sekalian berangkat kerja. Atau, apabila jaraknya berlawanan, bisa mengantar anak dengan menggunakan mobil antar jemput sekolah.

46. Berangkat atau pulang kerja secara berbarengan dengan rekan-rekan sekantor dalam satu mobil yang searah, sehingga bisa berbagi biaya perjalanan dengan mereka.

47. Usahakan menggunakan transportasi massa daripada memiliki mobil sendiri yang selain boros biaya BBM, juga menghindari kemacetan di jalan, biaya parkir, asuransi dan biaya pemeliharaan mobil.

48. Apabila memakai mobil sendiri, pergunakan mobil yang hemat energi, yang berbahan bakar biosolar, atau biogas. Jangan menggunakan mobil besar sejenis van atau SUV hanyauntuk transportasi di dalam kota. Gunakan kendaraan hibrida atau yang menggunakan sumber panel surya.

49. Secara rutin merawat kendaraan, cek tekanan angin karena tekanan angin yang kurang akan lebih boros BBM.

50. Matikan mesin mobil saat sedang menunggu, apabila memakai supir, selalu ingatkan supir untuk tidak menyalakan AC dan tidur di mobil. Kalau perlu, setelah parkir, serahkan kunci mobil sehingga supir tidak berkesempatan tidur di mobil sambil menyalakan AC dan mendengar radio.

51. Belajarlah mengemudi dengan baik, mengganti perseneling sesuai kecepatan atau menggunakan perseneling otomatis, hindari menginjak gas terlalu dalam, matikan mesin apabila terjadi kemacetan yang terlalu lama, matikan AC apabila udara di luar tidak terlalu panas, matikan AC mobil beberapa menit sebelum sampai tujuan.

52. Apabila jarak rumah ke kantor atau tempat kerja dekat dan bisa ditempuh dengan naik sepeda, lebih baik menggunakan sepeda yang selain menghemat biaya perjalanan juga baik untuk menjaga kebugaran badan.

53. Hindari berlibur ke luar negeri yang jauh karena akan meninggalkan banyak jejak karbon. Banyak tempat-tempat wisata menarik di dalam negeri dan berbagai daerah di pelosok yang bisa kita pakai untuk tujuan liburan keluarga. Hindari pemakaian pesawat terbang untuk perjalanan wisata atau perjalanan dinas lainnya, karena bahan bakar pesawat terbang adalah penyumbang gas rumah kaca yang lebih tinggi dibandingkan mobil atau kendaraan darat dan laut lainnya.

54. Kurangi rapat di luar kantor atau di luar daerah dan di luar negeri, karena kemajuan teknologi saat ini mampu menyediakan teleconference jarak jauh, elektronik chatting, mobile chatting, presentasi jarak jauh, monitoring jarak jauh, yang semuanya itu bisa dilakukan karena kecanggihan internet. Pergunakan semaksimal mungkin kemajuan teknologi internet untuk tujuan bisnis.

55. Apabila sedang menginap di hotel, pergunakan handuk hotel lebih dari satu hari, matikan lampu dan AC kamar hotel apabila tidak berada di ruangan, matikan TV, dan pastikan tidak ada kebocoran air di kamar mandi.

LAIN LAIN yang HIJAU

56. Pergunakan baterai yang bisa diisi ulang atau rechargeable, jangan menggunakan baterai yang habis buang.

57. Pilihlah monitor untuk komputer atau TV model LCD dan hindari pemakaian peralatan elektronik yang boros listrik.

58. Gunakan produk-produk yang memiliki label daur-ulang (recycle), ramah lingkungan (eco-friendly), organik, bebas bahan kimia, dan berjangka panjang atau bisa dipakai berulang-ulang (re-useable).

59. Bawa botol pengisi ulang dan berbelanja bahan-bahan cair di tempat yang menyediakan pengisian ulang seperti sabun cair, pembersih lantai, air minum isi ulang, dan lain-lain.

60. Tempatkan tumbuh-tumbuhan di dalam ruangan untuk menjaga kesegaran ruangan.

61. Gunakan pupuk tanaman yang organik, penyemprot hama organik, dan pelajari cara bercocok tanam hidroponik karena sangat mudah dan bisa untuk konsumsi sendiri

62. Jangan membuang sampah sembarangan, pisahkan sampah organik dan non-organik, pelajari cara memanfaatkan sampah organik dan non-organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

63. Bersuaralah dan kumandangkan kepada keluarga, kerabat, tetangga, sahabat, teman sekolah, rekan kerja, dan masyarakat sekitar untuk menyelamatkan Bumi dari pemanasan global dengan mengurangi konsumsi daging hewani atau menjadi vegan, melakukan penghijauan dan bertindak hijau dalam lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja, dan tempat umum.

Sayangi bumi, kurangi makan daging

=========================================================
sumber
readmore »»  

Selasa, 04 Desember 2012

SENI TARI MELAYU: STRUKTUR DAN REFLEKSI KEINDAHAN

TARI SERAMPANG XII

.... yang mendukung studi tari masih sangat langka, apalagi yang membahas tentang estetika tari Melayu. Padahal tari Melayu yang hidup dan berkembang sekarang, terutama tari Melayu Riau dan Sumatera Timur, memungkinkan....




Oleh : Dr. Sal Murgiyanto, MA.

Penulis risau, karena bahan rujukan yang mendukung studi tari masih sangat langka, apalagi yang membahas tentang estetika tari Melayu. Padahal tari Melayu yang hidup dan berkembang sekarang, terutama tari Melayu Riau dan Sumatera Timur, memungkinkan untuk diolah dan dibentuk. Pengolahan dan pembentukan tersebut akan menambah kekayaan ekspresi dari bentuk-bentuk yang ada. Meskipun demikian, jatidiri tari daerah tetap perlu dipelihara sebagai perwujudan kehidupan budaya daerah. Di lain pihak, tari karya baru tidak perlu menutup diri dari pengaruh budaya luar.

1. Pendahuluan
Tari adalah salah satu sakaguru seni pertunujukan tradisi Indonesia. Tari yang merupakan cabang seni pertunjukan tertua lahir bersamaan dengan lahirnya kebudayaan manusia. Ironisnya, sebagai disiplin studi, tari justru merupakan disiplin yang paling muda.

Perguruan tinggi tari pertama di Indonesia adalah ASTI Yogyakarta (kini Jurusan Tari, Fakultas Kesenian, Institut Seni Indonesia) yang baru didirikan pada tahun 1963. Oleh karena itu, literatur yang mendukung studi tari masih sangat terbatas, apalagi yang membahas keindahan atau estetika tari-tari Melayu.

Berbeda dengan hasil karya seni rupa yang dapat dinikmati oleh pembuat dan peminatnya sepanjang mereka mau, maka tari hanya dapat dinikmati sekali saja pada saat dipergelarkan. Sebuah pertunjukan tari memang dapat diulangi, tetapi pergelaran ulang sesungguhnya tidak pernah sama dengan pergelaran sebelumnya. Baik suasana, kondisi penari, tempat pertunjukan, maupun waktunya. Karena alasan di atas, maka pembahasan ini didasarkan pada pengamatan terhadap tari-tari Melayu yang hidup dan berkembang hingga 1985, terutama yang tampil di kota Jakarta sejak tahun 1977.

Jenis-jenis tari yang diamati tidak terbatas pada tari-tari Melayu Riau dan Sumatera Utara yang disebut sebagai daerah asal dan pusat Budaya Melayu, tetapi juga kelompok Melayu dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, bahkan yang berasal dari Malaysia.

2. Estetika Dan Keindahan Seni
Perlu ditegaskan bahwa pembahasan akan dititikberatkan pada tari dalam fungsinya sebagai karya seni yang dihayati untuk mendapatkan pengalaman estetika dan bukan dalam fungsinya yang lain, seperti untuk upacara, hiburan, pergaulan, penerangan, pendidikan, dan lain-lain, karena istilah estetika secara universal hampir selalu diasosiasikan dengan karya seni, meskipun penghayatan keindahan bukan monopoli karya seni. Di bidang seni, estetika sering menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam.

Penilaian estetika seseorang dipengaruhi oleh ketajaman penghayatan, suasana emosional, kebebasan, selera, pengalaman, keleluasaan apresiasi, ide keindahan, kebenaran, kenikmatan, realitas, sistem nilai, dan rasa aman, karena nilai-nilai tradisi yang telah mapan dalam moral, agama, prinsip, politik, sosial, dan elemen-elemen magis mungkin tidak disadari adanya. Menurut Ellfeldt (1976: 136), estetika membahas tentang teori filosofis tanpa memberi rumus objektif atau bukti-bukti, yang sasarannya untuk membahas aspek-aspek nilai dari sebuah penghayatan.

Pembahasan yang menitikberatkan fungsi utama tari Melayu bukan berarti melupakan kaitan nilai-nilai keindahan tari dengan nilai-nilai budaya Melayu yang lain, karena pertama, sebuah karya seni tidak bertanggung jawab atas kualitas dan penerimaannya oleh penonton. Tanggung jawab ini dipikul oleh keadaan budaya asal karya tersebut. Karya seni bukan sebuah benda yang ditempelkan begitu saja kepada sekelompok masyarakat. Kedua, karya seni timbul dari kualitas yang menjadi ciri-ciri pokok dari masyarakat induknya. Jika masyarakat yang menghasilkan berantakan, maka karya seni yang dihasilkan akan mencerminkan gambaran di atas. Jika masyarakat yang menghasilkannya kokoh dan moralistik, maka keseniannya pun akan menggambarkan hal yang serupa (Nikolais, 1956: 74).

Hal ini menyebabkan Chairul Harun menyarankan untuk mengamati karya-karya tari Indonesia secara artistikantropologis. Saran tersebut didukung oleh pengamat tari lain. Pendekatan semacam ini memang tengah ramai dibicarakan, terutama di kalangan para ahli antropologi tari, seperti pernyataan berikut:

Tari adalah salah satu ekspresi budaya yang sangat kaya, tetapi paling sulit untuk dianalisis dan diinterpretasikan. Mengamati gerak laku sangat mudah, tetapi tidak mengetahui maknanya. Tari dapat diinterpretasikan dalam berbagai tingkat persepsi. Untuk memahami maksud yang hendak dikomunikasikan dari sebuah tarian, orang perlu tahu tentang kapan, kenapa, dan oleh siapa tari dilakukan. Dalam mengukur kedalaman sebuah tarian atau menjelaskan sebuah pertunjukan dari kebudayaan lain dituntut pemahaman cara dan pandangan hidup masyarakat yang menciptakan dan menerima tarian tersebut (Kuper via Snyder, 1984: 5).

3. Jenis-Jenis Tari Melayu
Pusat-pusat pemerintahan atau Kerajaan-kerajaan Melayu hampir seluruhnya terletak di tepi sungai atau di tepi pantai, dan sejak dulu orang Melayu ahli berdagang. Kedua hal ini menyebabkan kebudayaan Melayu terbuka terhadap pengaruh luar. Salah satu pengaruh besar yang kemudian meresap dalam bidang religi adalah pengaruh Arab-Islam. Pengaruh ini seakan-akan menghapus budaya Hindu dan Budha, sehingga budaya Hindu-Budha tinggal penghias dalam kebudayaan Melayu. Kesenian Zapin (Gambus), Kasidah, Rodat (Barodah), dan Zikir Barat adalah pengaruh dari kebudayaan Islam tersebut (Sinar, 1982: 3).

Jauh sebelum Islam masuk, hubungan Melayu dengan Siam sudah terbina cukup baik. Pengaruh Siam yang masuk melalui Kedah dan Perlis terlihat dalam bentuk pertunjukan Makyong, Menora, dan Mendu di wilayah Luhak Teluk Aru di Langkat dan di Kerajaan Deli Serdang. Pengaruh India, dalam hal ini Keling atau Tamil, India Selatan, terus berlanjut, sesudah Islam identik dengan Melayu. Pada akhir abad ke-19 pengaruh India ditandai dengan berkembangnya pertunjukan wayang Parsi, Bangsawan, dan sebagainya.

Selanjutnya T. Luckman Sinar (1982: 5–12) membagi tari-tarian Melayu dalam empat kelompok. Pertama, kelompok tari yang masih bersifat magis-religius. Tari dipimpin oleh pawang yang mengucapkan mantra-mantra tertentu, seperti yang dilakukan dalam upacara mengambil madu lebah, jamu laut, jamu bendang atau dalam tarian keliling sambil menginjak-injak padi (Ahot-ahot). Dalam pertunjukan Makyong, pawang mendapat bagian yang menghadap rebab. Kedua, kelompok tari perang. Tari yang termasuk jenis ini adalah tari silat dan tari pedang yang ditarikan oleh laki-laki dengan memakai senjata (pisau, keris, atau pedang). Tarian ini dilakukan untuk menyambut tamu penting atau untuk mengarak pengantin. Tari Inai dengan gerakan silat sambil memegang lilin yang ditarikan di depan pelaminan dalam “Malam Berinai Besar” termasuk dalam kelompok ini. Ketiga, tari pertunjukan. Tari ini dibedakan menjadi tari yang bersifat semireligius dan tari yang semata-mata bersifat hiburan. Barodah dan Zikir Barat yang menyanyikan syair pemujaan kepada Allah dan Rasullulah dalam bahasa Arab dan bersumber dari kitab Barzanzi masuk dalam tari semireligius. Adapun tari yang bersifat hiburan semata-mata yaitu Zapin. Keempat, kelompok tari-tari Ronggeng untuk menandak, antara lain tari Lagu Senandung, tari Lagu Dua, tari Lenggang Mak Inang/Cik Minah Sayang, tari Pulau Sari, tari Patam-patam, dan Gubang. Tari Lagu Senandung, tari Lagu Dua, tari Lenggang Mak Inang/Cik Minah Sayang, dan tari Pulau Sari ini sering dilakukan dalam satu rangkaian dan disebut sebagai tari Melayu “empat serangkai”.

Dalam khazanah tari Melayu dikenal empat istilah yang berarti tari, yaitu tandak, yang menekankan pada langkahlangkah kaki; igal, yang menekankan pada gerakan-gerakan tubuh; liuk, yang menekankan pada gerakan merendahkan tubuh dan mengayunkan badan dan tangan seperti menggelai dan melayah; dan tari, yang ditandai dengan gerakan lengan, tangan, dan jari-jari yang lemah gemulai. Istilah tari juga digunakan untuk menyebut tari Melayu pada umumnya (Sheppard, 1972: 82).

Untuk Riau, kelompok tari pertama ditambah tari Mayang (Berasik) yang berfungsi untuk mengobati sakit menahun secara tradisional; tari Bandabus; tari Alu; tari Lukah; dan tari Topeng Binatang. Kelompok kedua ditambah tari Cecah Inai dan tari Olang-olang, sedangkan untuk golongan tari pertunjukan ditambah tarian istana, seperti tari Air Mawar yang dipakai untuk menyambut tamu-tamu penting dan tari Menjunjung Duli (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 123–25).

Menurut almarhum Tengku Nazly A. Mansur, dari beberapa jenis tari di atas, yang sudah digarap dan dikembangkan baru tari Tandak. Tari Tandak digarap dan dikembangkan oleh almarhum Sayuti dan almarhum Tengku Rajih Anwar pada tahun 1950-an. Tari ini kemudian melahirkan tari Serampang XII yang dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia. Walaupun masing-masing kelompok tari memiliki ciri khas, tetapi bagi yang menguasai tari Tandak dapat dengan mudah mempelajari jenis tari Melayu yang lain, sehingga tari Tandak memegang peran penting dalam tari Melayu (Mansur, t.t.). Semula, tari Tandak dimainkan oleh penari upahan dengan mengumpulkan uang sewa. Pada masa lalu tari ini menarik perhatian kalangan istana yang kemudian mengolahnya menjadi tari Joget.

4. Struktur Dan Estetika Tari Melayu
Dalam pembicaraan tentang estetika atau keindahan tari, jenis-jenis tari yang dilakukan sebagai pelepas kekuatan emosional dan fisikal tidak akan dibahas, karena dalam tingkat ini keperluan teknik gerak belum disadari. Keterampilan gerak biasanya dikuasai secara instingtif dan intuitif. Tari sebagai ungkapan seni mulai hadir ketika orang mulai sadar akan pentingnya teknik atau keterampilan gerak, dan ketika itu orang mulai mengatur gerak, artinya mulai ada tuntutan keteraturan atau bentuk. Sejalan dengan pertumbuhan itu mulai tumbuh kepekaan nilai pengalaman dan perasaan yang dihayati secara lebih mendalam. Masalah dasar dalam kesenian adalah pengaturan yang terkendali dari suatu medium dalam rangka mengkomunikasikan imaji-imaji dari pengalaman manusia (Ellfeldt, 1976: 160).

Dalam Diskusi Tari Tradisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada Desember 1975, sejumlah ahli tari kita merumuskan pengertian dasar unsur estetika tari yang meliputi medium (bahan baku), penggarapan, isi, dan penyajian (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 157).

a. Medium atau Bahan Baku
Medium atau bahan baku tari adalah gerak yang setiap hari kita lakukan. Berdasarkan fungsinya, gerak dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu gerak bermain yang dilakukan untuk kesenangan pelakunya, gerak bekerja yang dilakukan untuk memperoleh hasil, dan gerak tari yang dilakukan untuk mengungkapkan pengalaman seseorang atau masyarakat agar dihayati secara estetika oleh penikmat atau penontonnya. Sebuah gerakan dinilai baik jika tujuan gerak tersebut dapat dipenuhi dengan efisiensi maksimal dengan usaha yang sekecil-kecilnya, sehingga gerakan tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan terkendali tanpa gerak tambahan yang tidak perlu. Ellfeldt (1976: 136) menyebutkan bahwa yang melahirkan gerakan-gerakan yang gemulai, anggun, indah adalah pengendalian tenaga dalam melakukan gerak.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang hampir tidak pernah menganalisis keindahan gerak yang dilihatnya. Mereka lebih bereaksi dengan menyatakan kekaguman atau ketidaksenangannya tanpa penjelasan lebih jauh.

Teknik Gerak
Salah satu hal yang membuat kita dapat merasakan keindahan sebuah gerak tari adalah ketika pelakunya mampu menarikan dengan kekuatan, kelenturan, dan koordinasi yang sempurna, sehingga rasa gerak yang dilakukan merambat dan dirasakan oleh penonton. Kalau penari menggambarkan gerakan terbang, maka penonton pun seakanakan ikut terbang bersama penari.

Faktor pertama yang mempengaruhi estetika gerak tari adalah keterampilan atau kemahiran melaksanakan gerak. Penari Jawa menyebutnya wiraga dan dalam literatur Barat disebut teknik gerak atau teknik tari. Berbeda dengan gerakan dalam olahraga, gerakan tari bukan saja harus dilakukan secara benar, tetapi “bagaimana gerakan itu dilakukan” harus terpenuhi. Dengan kata lain, “kualitas” dan “gaya” dalam melakukan gerakan menjadi hal yang sangat penting.

Sebagaimana halnya tari tradisi lain, ada dua hal utama dalam membicarakan tari tradisi Melayu. Pertama, adanya pola-pola gerak yang menjadi dasar penyusunan tari. Kedua, adanya aturan dan konvensi yang menentukan pengaturan pola-pola yang membangun ragam-ragam gerak. Sebagai contoh, dalam tari Zapin dikenal ragam gerak alip, anak ayam patah, catuk, geliat, pecah lapan, pusing tengah, seribut, siku keluang, sut depan sut gantung, tahto, tongkah, dan lain-lain (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979: 239).

Teknik dalam tari tradisi dimaksudkan sebagai keterampilan mengkoordinasikan gerakan-gerakan tubuh untuk melakukan ragam gerak sesuai dengan aturan dan konvensi yang berlaku dalam tarian yang bersangkutan. Sebagai contoh, keterampilan penari zaman dulu diukur dari kemampuannya melakukan ragam gerak catuk. Diduga gerak ini diilhami dari cara ayam mencatuk makanan. Penilaian tersebut dilakukan dengan menyuruh dua penari pria menari dengan sebatang rokok pada masing-masing mulutnya. Seorang penari dengan rokok yang sudah menyala, penari lain dengan rokok yang belum menyala. Pada waktu membawakan ragam tari catuk, penari dengan rokok yang belum menyala harus menghidupkan rokoknya dengan jalan mencatukkan rokoknya ke rokok pasangannya. Mencatuk hanya boleh dilakukan sebanyak tiga kali dan apabila penari belum berhasil menghidupkan rokok di mulutnya, ia dianggap belum cukup terampil sebagai penari Zapin (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979: 157).

Penilaian keindahan gerak tari tradisi sering dipengaruhi oleh faktor sosial, kesukuan, emosional, agama, dan kepercayaan setempat. Dalam menarikan tari Tandak dan tari Zapin misalnya, pasangan penari pria dan wanita bergerak berdekatan, tetapi tidak boleh saling bersentuhan. Dalam tari Melayu juga dibedakan gerak tari ideal pria dan tari wanita. Mansur (t.t.) berpendapat, penari wanita sebaiknya menonjolkan sikap badan dan gerakan yang lemah lembut, sedangkan penari pria dengan sikap badan dan gerakan yang gagah. Dalam Zapin, penari pria menari dengan tempo lebih cepat daripada gerak penari wanita.

Pengaturan Irama
Medium tari adalah gerak, sedangkan alat yang digerakkan adalah tubuh. Oleh karena itu, untuk dapat memahami tari, orang harus memahami bagaimana menggunakan “alat” tersebut. Esensi tari adalah integrasi tubuh dan jiwa, serta integrasi antara pengalaman batiniah dan pengalaman lahiriah secara konseptual dan estetika.

Proses sebuah tarian diawali dengan pengalaman jasmaniah yang secara naluriah mengatur dirinya secara ritmik. Dengan demikian pengaturan ritmik merupakan unsur pokok tari. Seorang penari harus mendengarkan bunyi gendang, dan bila benar-benar memperhatikan dan mendengarkan bunyi gendang, maka dalam dirinya akan hadir gema gendang dan baru dapat benar-benar menari (Thompson, 1974: 262; Snyder, 1974: 9).

Dalam berkata-kata kita memerlukan jeda/perhentian, cepat lambat, dan intonasi suara agar dapat menghadirkan kalimat yang bermakna. Dalam tari pun demikian juga. Gerak sebagai penyusun ragam tari dapat dihasilkan karena pengaturan irama cepat lambat, jeda/perhentian, awal pengembangan, dan klimaks dari tiga unsur gerak (ruang, waktu, dan tenaga). Pengaturan irama semacam ini sangat membantu penari dalam mengingat dan menghafalkan rangkaian gerak, sehingga penari dapat melakukannya dengan penghayatan maksimal. Pengaturan semacam ini juga memudahkan penonton dalam mengikuti dan memahami ungkapan-ungkapan gerak yang dilakukan penari. Seorang penari Jawa, di samping terampil gerak atau wiraga, juga harus menguasai wirama yang terkandung dalam gerak tari maupun irama musik pengiringnya.

Dalam tarian Melayu dikenal istilah rentak, yaitu motif irama (musik) tertentu yang mendasari motif gerak tertentu (Dewan Kesenian Jakarta, 1978: 99). Rentaklah yang membangun suasana dan identitas tari Melayu. Rentak yang dikenal antara lain rentak Zapin, rentak Joget, rentak Ghazal, rentak Melayu, rentak Mak Inang, rentak Nobat, dan sebagainya. Semua rentak di atas masih dapat dibagi dalam tiga garis besar, yaitu rentak cepat, rentak sedang, dan rentak lambat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 124). Dalam Lokakarya Tari Melayu tahun 1976 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta telah disepakati klasifikasi tari Melayu atas dasar rentak Senandung, rentak Mak Inang dengan variasi Cik Minah Sayang, dan rentak Lagu Dua dengan variasi Pulau Sari (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 99). Tengku Luckman Sinar (1982) dalam tulisannya menjelaskan rentak-rentak tersebut sebagai berikut.

Pertama, tari Lagu Senandung, berirama pelan dengan nyanyian dan pantun nasib yang merayu-rayu yang dibawakan oleh penari. Peralatan musik yang digunakan adalah biola atau akordeon, dua buah gendang ronggeng bulat satu sisi yang terdiri dari induk dan anak, dan sebuah gong atau tawak-tawak. Irama senandung ini khas Melayu dan sudah ada dalam Makyong yang masuk ke tanah Melayu pada abad ke-16. Dalam rentak Senandung lebih diutamakan gerakan tangan dan jari yang lemah gemulai daripada gerakan kaki.

Kedua, tari Lenggang Mak Inang, dilakukan dengan tempo dan lagu yang dinyanyikan dalam empat baris chorus. Gerak lenggang tangan yang lemah gemulai dikembangkan dengan memegang saputangan atau selendang dan temponya dipercepat. Salah satu variasinya adalah lagu Cik Minah Sayang.

Ketiga, tari Lagu Dua, dilakukan dengan irama 2/4 yang bernada gembira dengan pantun-pantun jenaka. Dalam tarian bertempo cepat ini gerakan kaki yang dihenjut-henjutkan dan agresif lebih diutamakan, terutama bagi laki-laki. Kadang-kadang langkah kaki berbunga (double step) seolah-olah tidak menjejak dan badan seperti melayang. Angkatan tangan sebatas pinggang hingga bahu. Salah satu variasi rentak Lagu Dua adalah Pulau Sari. Pulau Sari merupakan rentak Lagu Dua yang kecepatannya dilipatkan sehingga tidak pernah diiringi nyanyian lagi. Gerakan kaki penari yang meloncat-loncat ringan sangat diutamakan.

Uraian di atas adalah mengenai struktur tari Melayu jenis tandak/ronggeng yang sering dipentaskan sekarang sebagai tari pertunjukan, sedangkan bentuk tari ronggeng yang asli dilakukan oleh penari wanita dengan tamu lelaki yang datang membayar. Di Riau, tari ini dilakukan dengan urutan berikut (1) Pembukaan dengan lagu “Tuanku E Lenggang”; (2) Berjoget dengan iringan lagu “Serampang Laut”; (3) Ledah dengan memberi rokok keliling oleh penjoget dengan lagu “Cik Siti”; (4) Berjoget lagi; (5) Ekstra (selingan) dengan menonjolkan pertunjukan akrobatik; dan (6) Penutup dengan lagu “E Lenggang Penutup” (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 124).

b. Penghayatan dan Isi
Tarian seorang penari di atas panggung merupakan wujud atau citra yang dinamis. Segala hal yang dilakukan seorang penari menghasilkan sesuatu yang aktual dan dapat diamati oleh penonton yang mempunyai hubungan tempat, waktu, gaya berat, tenaga, tata rupa, pengendalian otot, pengaturan cahaya, dan sebagainya. Namun, sebuah tarian dikatakan berhasil sebagai karya seni bila wujud fisik dalam pentas seakan-akan tidak ada. Semakin sempurna sebuah tarian, semakin sedikit aktualitas yang dapat ditangkap (Langer, 1957: 5–6).

Seorang penari yang baik sering dikatakan dapat menghidupkan sebuah tarian. Hal ini dapat dimengerti, karena wujud luar tarian yang diamati pada hakekatnya adalah perwujudan dari isi atau makna tarian. Kesan hidup tersebut dapat hadir dalam tarian, jika tarian tersebut berhasil menemukan bentuk seninya, yaitu jika pengalaman batin pencipta atau penarinya berhasil menyatu dengan pengalaman lahirnya.

Dalam seni, bentuk memang tidak hadir untuk kepentingan bentuk itu sendiri. Bentuk mengikuti fungsi dan sebaliknya, fungsi terikat pada bentuk. Kita ambil contoh bentuk tarian yang paling sederhana, yaitu sebuah lingkaran. Bentuk lingkaran mensugesti dan menyimbolkan aspek sosialisasi tari. Lingkaran merupakan bentuk yang mengikat sekelompok orang dan meleburkan pribadi-pribadi menjadi kelompok yang satu. Jadi, gerakan lingkaran yang dilakukan akan sangat lemah sebagai bentuk ekspresi jika tanpa penghayatan solidaritas atau rasa kebersamaan antarpenari.

Penari dikatakan berhasil menjiwai sebuah tarian jika mampu menghayati isi atau makna tarian yang dibawakan dan berhasil mengkomunikasikannya kepada penonton. Dalam tari Jawa, penghayatan ini disebut wirasa. Seorang penari tidak sama dengan seorang olahragawan yang hanya bergerak untuk kepentingan otot-otot atau untuk menang dalam sebuah permainan. Seorang penari harus mampu menghayati dan merasakan setiap gerak yang dilakukan.

Gerak tari Jawa yang ideal adalah semeleh, artinya semua gerak tari harus dilakukan dengan perasaan tenang dan tenteram tanpa ketegangan. Seorang penari Jawa yang tidak sabar dan selalu tergesa-gesa, jelas tidak akan dapat mencerminkan ideal kehidupan orang Jawa. Oleh karena itu, dulu tari Jawa dipakai sebagai sarana edukasi untuk mendidik generasi muda dalam hal sopan-santun dan tata-cara, tetapi, “Apakah nilai-nilai semacam itu masih dipertahankan oleh masyarakat sekarang?” Tentu hal ini masih harus diselidiki. Jika dalam tari Jawa garapan baru timbul suasana dan kualitas gerak yang lain, berarti tradisi Jawa hidup. Hal ini tentu harus dibuktikan lewat perjalanan waktu.

Dalam mengamati tari Melayu yang bagus, penulis merasa terbawa oleh gerakan penari yang melayang ringan bagaikan berselancar meniti aliran air, meloncat ringan bagaikan riak gelombang yang pecah membentur karangkarang kecil. Komposisinya berkembang dari tempo yang perlahan, merambat lebih cepat, dan mencapai klimaks kecepatan di akhir bagian.

Kualitas gerak untuk memperindah tari Melayu jenis Tandak dan Zapin sesungguhnya masih dapat dikembangkan dan diperluas, mengingat banyaknya jenis tari Melayu yang belum dijelajahi kualitas geraknya, seperti Silat, Makyong, Rodat, dan tarian istana yang memungkinkan untuk dibangkitkan kembali.

5. Masalah Penggarapan Dan Kemungkinan Di Masa Mendatang
Telah disebutkan di depan bahwa dari sekian banyak tari Melayu, yang telah digarap dan dikembangkan baru jenis tari Tandak/Ronggeng. Kita masih ingat akan tari Serampang XII yang dikenal luas hampir di seluruh pelosok Indonesia. Kepopuleran tari Serampang XII sebagai tari “nasional” di samping menimbulkan kebanggaan, ternyata juga menimbulkan kesulitan langkah pembinaan. Jenis-jenis tari Melayu lain yang juga potensial menjadi tersisih dan usaha penyebaran telah mengalahkan usaha pendalaman.

Dalam tari tradisi beberapa waktu silam, termasuk tradisi Melayu, terdapat kecenderungan yang menganggap pola sebagai ketentuan bentuk yang mutlak. Padahal penggarapan tari seharusnya berpola dari bahan yang lebih dasar daripada pola, yaitu mediumnya (Dewan Kesenian Jakarta, 1976: 157). Medium tari adalah gerak dengan aspekaspeknya yang meliputi ruang, waktu, dan tenaga.

Tari tradisi seharusnya tidak diperlakukan sebagai warisan keramat yang tidak bisa diusik, melainkan sebagai kekayaan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Penggarapan tari Melayu baru bukannya tidak ada, karena tari Melayu baru tersebut juga tampil dalam Pekan Tari (Seni Pertunjukan) Rakyat Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun sejak tahun 1977 dan dalam forum Pekan Penata Tari Muda Dewan Kesenian Jakarta.

Upaya untuk memperluas materi garap telah dilakukan oleh Jose Rizal Firdaus dalam menggarap Simpai Geri yang ditampilkan dalam Pekan Penata Tari Muda tahun 1984 dengan memanfaatkan gerakan tari Hadrah, Inai, Silat, Ahoi, Gubang, dan Sarah, tetapi penampilan dan penggarapan dari sudut estetika masih belum memuaskan. Hal ini tampak dari kesan dan tanggapan beberapa penonton. Nani Lubis dari Jakarta menanyakan ada tidaknya niat untuk memperbaiki teknik gerak para penari, sedangkan Bagindo Fahmi dari Padang berpendapat bahwa sebagai sebuah garapan, karya Jose Rizal Firdaus belum diolah dengan bumbu atau resep pilihan. Artinya, masih ada kekurangan dalam segi teknik dan estetika penggarapan (Dewan Kesenian Jakarta, 1985: 24–29).

Dua tahun sebelumnya, T. Sitta Syaritsa tampil di forum yang sama dengan menyajikan dramatari Putri Bungsu. Soenarto Timoer yang berasal dari Jawa Timur berkomentar bahwa ekspresi karakter dalam garapan Sitta belum terlihat. Tokoh pria yang diperankan wanita bergerak lemah gemulai, sehingga kurang mendukung karakterisasi. Lagipula penyusunan adegan terpotong-potong dan tidak menghadirkan garapan yang utuh (Murgiyanto (Ed.), 1982: 40).

Terlepas dari ketidaktahuan Soenarto bahwa T. Sitta Syaritsa menggarap dramatarinya berdasarkan Makyong yang hampir seluruh tokohnya dimainkan wanita, kekosongan tersebut terjadi karena dalam Makyong yang asli pada bagian yang terpotong tersebut diisi dialog. Dari pendapat di atas diketahui bahwa aspek penghayatan dan penggarapan Putri Bungsu belum berhasil. Barangkali karena terbiasa dengan tari-tari berdurasi pendek, seperti tari Senampang XII, maka usaha penggarapan tari berdurasi lebih panjang (30–45 menit) masih belum maksimal karena penggarap belum terbiasa.

Ketika menjadi pengamat dalam salah satu Pekan Tari Rakyat Tingkat Nasional, penulis gembira mengamati penampilan peserta Riau yang menggarap materi-materi tradisi daerahnya secara kreatif, tetapi penulis sempat terhenyak ketika melihat ragam gerak dari luar Riau diserap begitu saja. Memasukkan unsur-unsur dari luar daerah tentu bukan hal tabu, tetapi karena tidak terolah dengan baik, maka hasil yang ditampilkan tampak asing dan terpisah dari ragam Melayu. Dalam mengolah sebuah garapan sebenarnya harus memperhatikan tiga elemen dasar gerak yakni ruang, waktu, dan tenaga.

Menurut Murgiyanto (1977: 5–6), sebuah tarian tampak indah dan menarik, karena, pertama hubungan waktu ritmis, terdiri dari sekuen-sekuen gerak panjang dan pendek yang dikuatkan oleh aksen-aksen secukupnya; kedua pengaturan ruang sebuah sekuen gerak disusun atas unsur besar kecil, tinggi rendah, kanan kiri, dan muka belakang secara ritmis. Kombinasi berbagai arah ini dapat dilakukan oleh satu orang atau sekelompok penari dan tetap di tempat atau melintasi ruang, dan ketiga perubahan-perubahan penggunaan tenaga dalam tubuh penari, sehingga dinamika sebuah rangkaian gerak yang memberikan kontras antara menegang mengendur, aktif pasif, berat ringan, dan sebagainya akan tampak.

Walaupun unsur waktu, ruang, dan tenaga tersebut dapat ditampilkan secara lebih menarik, tetapi pada hakekatnya ketiganya tidak bisa dipisahkan. Bagaimanapun sederhananya sebuah gerak, ia akan tetap menggunakan ketiga unsur tersebut. Sebuah tarian yang digarap dengan jelas dan bersih akan memiliki daya pesona yang tinggi, baik bagi penonton awam maupun bagi para ahli tari.

Uraian di atas memberikan kesadaran kepada kita, betapa pentingnya mempelajari aspek penggarapan baru, di samping kewajiban untuk memperdalam pemahaman nilai-nilai tradisi sendiri. Dari sumber pustaka yang sangat terbatas diketahui bahwa tari-tarian istana Melayu di masa lalu menuntut ketekunan dan keterampilan teknis yang cukup tinggi. Para penari Ashek yang dipilih dari dara-dara di wilayah sebuah kerajaan, tinggal di istana tidak hanya untuk belajar menari, tetapi juga belajar tata-cara dan adat kraton. Mereka harus belajar kurang lebih empat tahun agar diizinkan menari di depan raja. Penari-penari istana yang lain, khususnya penari Joget yang pernah terkenal di istana Johor, Riau, dan Lingga konon menguasai lebih dari 30 macam tarian (Sheppard, t.t.: 83, 91).

Pelestarian dan pengembangan tari tradisi pada intinya harus berpijak pada ukuran kehidupan kesenian, dengan tetap menyadari adanya ukuran-ukuran lain. Dalam tari tradisi diperlukan kelanjutan yang bersifat kreatif serta mengandung unsur pembaharuan, keutuhan, dan kemantapan sesuai dengan jiwa masa kini (Dewan Kesenian Jakarta, 1975: 158).

Suhaimi bin Magi, seorang mahasiswa Malaysia ketika sedang belajar tari di Institut Kesenian Jakarta pernah menulis:

Tari-tarian Melayu yang kita kenal sekarang ini tidak lebih dari fotokopi dari tari-tarian sebelumnya. Gaya dan bentuk serupa tetap muncul tanpa kehadiran karya-karya baru yang bisa dibanggakan. Usaha-usaha yang dilakukan tidak bertujuan untuk melihat hasil yang sudah baik agar dapat menjadi lebih baik lagi (Magi, 1985: 7– 8).

Tulisan di atas mungkin terasa pahit, tetapi semoga dapat menjadi cambuk dalam melangkah agar lebih mantap. Pengolahan tari Melayu di Sumatera, Jakarta, maupun Malaysia menurutnya lamban jika dibandingkan dengan tari daerah lain seperti Minangkabau dan Aceh yang berkembang cukup pesat melalui tangan-tangan generasi muda. Padahal tari Melayu memiliki peluang untuk diolah dan dibentuk untuk menghadirkan karya-karya baru yang menambah kekayaan ekspresi dan bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya. Usaha semacam ini merupakan langkah yang harus diambil jika tari Melayu ingin meraih kegemilangannya kembali, seperti yang telah diraih pada tahun 1950-an. Sekarang kita dituntut untuk mampu berbicara dalam dua bahasa, yaitu bahasa ibu yang akrab dengan pengalaman batin kita dan bahasa nasional atau bahkan bahasa internasional yang memungkinkan kita untuk mengkomunikasikan pengalaman dan perasaan kita kepada seluruh bangsa di dunia.

Dalam usaha pembinaan, identitas tari daerah memang perlu dipelihara sebagai suatu perwujudan kenyataan kehidupan budaya daerah yang wajar, tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh dari daerah lain atau bertambahnya karya-karya tari baru yang tidak memiliki ciri-ciri tradisi daerah yang bersangkutan. Katherine Kuh seperti yang dikutip Ellfeldt (1976: 131) mengatakan bahwa dalam kesenian memang tidak ada jawaban akhir, yang ada hanya pertanyaan terus-menerus yang membimbing kita ke arah pemahaman baru.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1978/1979. Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Riau. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Tari Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

–––––––––. T.t. Monografi Daerah Riau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dewan Kesenian Jakarta. 1976. Festival Desember 1975. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

–––––––––. 1978. “Rumusan Lokakarya Tari Melayu” dalam Pesta Seni 1976. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Ellfeldt, L. 1976. Dance: From Magic to Art. Dubuque, Iowa: W.C. Brown.
Firdaus, J. R. 1985. “Penata Tari Muda 1984” dalam Simpai Geni. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Kuper, H. 1984. “Celebration of Growth and Kingship” dalam Art d`Afrique.

Langer, S. K. 1957. Problems of Art. New York: Charles Scribner`s Sons.

Mansur, T. N. A. t.t. Meninjau Beberapa Jenis Tari Melayu. Naskah lepas. Murgiyanto, S. 1977. “Cara Menilai Seorang Penari “.Kompas 19 Juli 1977, Jakarta.

–––––––––. 1983. Hasil Diskusi Penata Tari Muda. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Nikolais, A. 1956. “No Man From Mars” dalam The Modern Dance: Seven Statements of Belief. Connecticut: We Leyan Press.

Sheppard, M. 1972. Taman Indera. Kuala Lumpur. Oxford University Press.

Sinar, T. L. 1982. Latar Belakang Sejarah dan Perkembangan Seni Tari Melayu di Sumatera Timur. Makalah Pekan Penata Tari dan Komponis Muda Dewan Kesenian Jakarta.

Snyder, A. F. 1984. Examining the Dance Event From A World Perspective. Ceramah di Grand Salon, Renwick Gallery.

Syaritsa, T. S. 1982. “Putri Bungsu: Sebuah Tari Melayu Kreasi Baru” dalam Penata Tari Muda 1982. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Thompson, R. F. 1974. African Art in Motion. Berkeley: University of California Press.
_________
Dr. Sal Murgiyanto, MA., lahir di Solo, Jawa Tengah, 27 Desember 1945. Ayahnya, R.M. Sukamto Kartotenoyo, adalah juru masak Istana Mangkunegaran, Surakarta dan pernah dikirim pihak Istana ke Negeri Belanda untuk belajar memasak. Ini salah satu pendorong Sal untuk berusaha mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Selesai SMA tahun 1963, Sal beberapa kali pindah kuliah. Pertama di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, hanya setahun (1963). Tahun 1964 sampai 1968 di Sekolah Tinggi Perkebunan dan di sini ia mendapat gelar sarjana muda (B.Sc.). Gelar Seniman Seni Tari ia peroleh di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta (1975). Seluruh biaya kuliahnya ditanggung dari kebolehannya menari. Ketika Sendratari Ramayana di panggung terbuka Candi Prambanan berjaya (1962-1972), Sal tercatat sebagai penari Hanoman –tokoh wayang yang sangat ia gemari sejak kecil. Pernah pula bersama grup tari Sardono W. Kusumo ia berkeliling Eropa mempertunjukkan Dongeng dari Dirah.

Keahliannya dalam menari menggerakkan Universitas Colorado jurusan tari dan teater memberinya beasiswa penuh, sampai ia meraih M.A. di tahun 1976. Perguruan tinggi di Los Angeles itu akhirnya mempercayai Sal menjadi pengajar tamu tahun 1984. Menjadi Asisten Pengajar AST (1970–1975), Purek Bidang Akademis Institut Kesenian Jakarta, dan Sekretaris I Dewan Kesenian Jakarta (1977–sekarang), dan menjadi dosen tamu Universitas California, AS (1984). Jabatan lain adalah sebagai Wakil Presiden Asian Dance Association (1983- 1984). Beberapa karya tulisnya antara lain, Koreografi, PMK dan P&K, (1980), Penata Tari Muda (ed), PT Harapan dan DKJ (1982), Seni Menata Tari, terjemahan Doris Humprey, DKJ (1983). Sedangkan karya koreografinya, antara lain, Damarwulan, Chandrakirana.
__________
Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau



Sumber
readmore »»  

Melayu Dan Seni Teater Modern RIAU

Kata atau nama Melayu telah dikenal dalam rentang waktu yang cukup lama. Kata atau nama Melayu telah disebut-sebut pada tahun 664/45 Masehi, dan muncul pertama kali dalam catatan (buku tamu) kerajaan China.



Melayu diartikan sebagai satu suku yang berasal dari Indalus (Sumatra) dan Seberang Sumatra (Malaka). Di Indalus atau Andalas terdapat kerajaan yang berhadapan dengan Pulau Bangka, di sana ada Sungai Tatang dan Gunung Mahameru serta sungai yang bernama ‘Melayu’. Rajanya bernama Demang Lebar Daun. Kata ‘melayu’ masih ditemui pada bahasa-bahasa di sekitar Palembang dan juga di Pulau Jawa; yang dihubungkan dengan kata ‘melaju’, atau ‘deras’,’kencang’. Kemudian ‘melayu’ dapat diartikan sungai deras aliran airnya; bisa juga ditafsirkan orang atau penduduknya pedagang yang gesit, dinamis. Melayu dapat pula berarti dagang; yang berarti orang asing.

Bangsa Melayu identik sebagai seorang pedagang yang gesit. Fenomena kata ‘melayu’ yang kali kedua ini dan kemudian ditolak ukur dengan pernyataan ‘melayu’ pada poin pembahasan di pragraf sebelumnya juga sejalan dengan pernyataan dari catatan seorang biksu China bernama I tsing (Haan 1897; Schnittger 1939). Menurut catatan sang biksu, dia sempat mengunjungi Kerajaan Melayu sebanyak dua kali, yakni tahun 671 M dan 685 M.



Melayu juga diidentikan dengan Agama Islam. Yang disebut ‘orang melayu’ adalah orang yang memeluk agama Islam, berbahasa Melayu dan beradat istiadat Melayu; tidak ada orang Melayu yang tidak beragama Islam.

Tinjauan-tinjauan tentang suku Melayu tersebut di atas menggunakan metode pendekatan bahasa dan pemaknaan kata ‘melayu’ dalam arti kata. Metode tersebut sering pula disebut sebagai metode filologis. Dari hasil tinjauan tersebut tergambarlah bahwa melayu merupakan suatu suku yang berada di Pulau Sumatra dengan ciri suka berdagang dan sukses dalam pelayaran dagangnya. Kelokasian tempat dari asal-usul suku melayu ada dimana ? (tentang perkiraan suku Melayu ada di Sumatra Tengah), masih sangat kabur dan kurang jelas keberadaannya, atau: apakah ‘melayu’ hanyalah satu sebutan saja bagi seorang pelayar dan melaksanakan aktifitas perdagang pada masa dahulunya ?

Melayu pada tinjauan filologis hanya menafsirkan sebagai suku yang berasal dari Sumatra dan Seberang Sumatra (Malaka). Karena kebiasaan dagang suku tersebut maka persebaran adat mereka tersiar di Pulau Jawa dan seluruh Nusantara Indonesia juga di belahan bumi lainnya.

Melayu yang juga diidentikan dengan bahasa, adalah cikal bakal dari Bahasa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa dasar dari pernyataan ini karena ‘Bahasa Melayu’ sudah akrab semenjak zaman dagang sebelum Nusantara menjadi Indonesia. ‘Bahasa Melayu’ digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan dagang tempo dulu. Fungsi Bahasa Melayu sebagai linguafranca ini, persebarannya tampak meliputi budaya yang begitu luas, hampir meliputi seluruh daerah pantai di tepian lautan ‘pedalaman’ Indonesia.

Teks tulis dari Bahasa Melayu adalah huruf arab dengan struktur yang dituliskan berdasarkan ketetapan dengan pasal aturan tulis. Unsur yang mempermudah diterimanya akumulasi bunyi kedua bahasa (Arab dan Melayu) itu karena ada persamaan bunyi pada sebagian besar huruf yang ada dalam Bahasa Melayu dengan bunyi yang ada dalam Bahasa Arab. Huruf Arab yang ditulis tanpa petanda baca tersebut sering pula disebut Huruf Arab Melayu (pegon). Penyebaran Bahasa Melayu meluas sejalan dengan pesat majunya perdagangan Suku Melayu itu sendiri.

Budaya Melayu banyak dipengaruhi Agama Islam. Melayu yang berkembang di Sumatra melingkupi kerajaan-kerajaan bekas Hindu dan Budha serta animisme di nusantara. Adapun kerajaan–kerajaan itu antara lain : Samudara Pasai di Kalimantan, Sriwijaya di Sumatra, Aceh di Sumatra, Goa di Sulawesi, Aceh dan juga Riau Lingga.

Seni di Riau
Khususnya di Riau yang kemudian merupakan salah satu wilayah temadun dari Budaya Melayu, bermukim bermacam-macam suku bangsa seperti Suku Melayu yang dianggap sebagai suku asli dan dominan, suku pendatang dari seluruh Indonesia dan suku-suku terasing. Di samping itu juga menetap di daerah ini bangsa pedagang dari luar negeri, yakni Cina. India, Arab dan Bangsa lainnya. Keragaman atmosfir kesukuan di Riau ini mengindikasikan terjadinya akulturasi budaya. Kebudayaan Melayu yang pada awalnya mendominasi berbaur dengan budaya bawaan lainnya yang ada di Riau.



Kerumpunan Melayu yang berkembang di Riau sangat mendominasi. Ini tidak dapat dilepaskan dari nilai sejarah pembentuknya. Kebudayaan Melayu yang begitu kental di wilayah Riau kemudian disinyalir sebagai suatu petanda sentiment yaitu tentang pusat Budaya Melayu. Oleh pemerintah setempat dan tentunya didukung oleh segenap Bangsa Indonesia, kemahawarisan Budaya Melayu yang mendominasi wilayah Riau ini menjadi sebuah proses pelacakan pusat Budaya Melayu semenjak beberapa tahun silam dengan sebuah misi publik yaitu : Riau adalah pusat dari Budaya Melayu Dunia pada tahun 2020 kelak.

Dominasi Budaya Melayu di Riau ini kemudian menjadi faktor sosiologis masyarakatnya. Hubungan sosial antar masyarakat Riau yang terdiri dari berbagai akar budaya yang saling berakulturasi telah menempatkan kemahawarisan Budaya Melayu sebagai filter budaya yang berkembang disana.

Keidentikan Budaya Melayu adalah peleburan budaya dan nilai norma Agama Islam. Agama Islam telah pula menjadi ciri lahirnya beragam bentuk kreatifitas seni sebagai bagian dari wujud Kebudayaan Melayu.

Seni di Kebudayaan Melayu adalah bagian dari nilai keindahan yang tertata apik dan tak lepas dari tuntunan nilai norma keislaman. Bentuk seni yang berkembang terdiri dari ragam budaya yang dibedakan dari faktor sosiologisnya. Kebudayan Melayu (yang juga berkembang di Riau) terdiri dari; 1) Kebudayaan Melayu Bangsawan, 2) Kebudayaan Melayu Lokal/ Rakyat.

Kebudayaan Melayu Bangasawan terbentuk dari hubungan sosial yang terjadi dalam lingkungan Bangsawan/Istana Kemelayuan. Kebudayaan Melayu Lokal/ Rakyat terbentuk dari hubungan sosial yang terjadi dalam lingkungan rakyat diluar wilayah istana. Bentuk-bentuk dari Kebudayan Melayu Bangsawan dan Kebudayan Melayu Lokal/ Rakyat itu diwujudkan dalam hubungan sosiologis masyarakat dalam kesatuan. Pola dari kedua bentuk Kebudayaan Melayu tersebut menciptakan bentukan ciri pada masyarakat pendukungnya masing-masing. Garis besarnya adalah Kebudayaan Melayu ada dalam ritus kehidupan masyarakatnya (lahir-hidup-kematian), ritual keagamaan dan adat, serta permainan adat dan kesenian.

Rangkaian pragraf berikut akan membatasi subjek pembahasannya yaitu kesenian ‘melayu’ yang berada di wilayah Riau.

Riau sejak dahulu sudah menjadi daerah lalu lintas perdagangan negara-negara tetangga, sehingga Riau melahirkan sosok dan warna budaya yang beragam. Hal ini merupakan beban, sekaligus berkah historis-geografis. Riau seakan-akan merupakan ladang perhimpunan berbagai potensi kesenian, yang di dalamnya terdapat pengaruh kebudayaan negara-negara tetangga dan kebudayaan daerah Indonesia lainnya. Kesenian Melayu Riau sangat beragam, karena kelompok-kelompok kecil yang ada dalam masyarakat juga berkembang. Perbedaan antara Riau Lautan dan Riau Daratan menunjukkan keanekaragaman kesenian di Riau. Hal ini sekaligus sebagai ciri khas Melayu Riau, karena dari pembauran kelompok-kelompok itu pandangan tentang kesenian Riau terbentuk. Maka pada zamannya, Kebudayaan Melayu telah menjadi sistem yang berubah tiap waktu sesuai masyarakat pendukungnya yang juga mengalami perkembangan*

Kesenian adalah sebagai salah satu produk kebudayaan. Di Riau, terdapat beberapa bentuk kesenian diantaranya pertunjukan (teater, tari musik, dan nyanyian) dan sastra. Khususnya seni teater dalam kesenian pertunjukan di Riau terakumulasi pula dalam beberapa jenis dan bentukan (tercatat; yang telah identivikasi dalam proses pendokumentasian dan penginventarisasian) yaitu: Teater Bangsawan (Wayang Persi), Berdah, Berbalas Pantun, Dul Muluk, Nandung, Mak Yong, Mamanda, Mendu, Nandai, Randai Kuantan, Surat Kapal, Ranggung**

Teater modern di Riau adalah seni teater yang berkembang dengan ciri kedaerahan Riau (Kebudayaan Melayu sebagai identitas). Pada bagian berikutnya dari makalah ini akan disampaikan pandangan penulis terhadap perkembangan Teater Modern di Riau dimana penulis merupakan juga salah satu seniman teater dari latar keluarga Budaya Melayu di Riau, bertempat tinggal juga di Riau dan kemudian sejak tahun 2004 sampai sekarang mengurangi konsentrasi kegiatan kreatifnya di wilayah Riau karena alasan menempuh pendidikan (seni) diluar wilayah Riau.

Keterangan :
* ; perlu pembahasan lebih lanjut.
** ; beberapanya dalam proses penelitian dimana salah satunya (ranggung) juga dalam proses penelitian oleh penulis.
Teater Modern di Riau
Menimbang perkembangan teater modern di Riau adalah menelaah sejengkal cerita yang sampai sekarang tidak pernah usai tuntas di tamatkan. Tentang fokus sajian pada bagian ini penulis memberikan beberapa alinea pragraf yang berisi tentang sudut pandang teater modern di Riau di tinjauan dari beberapa hal dengan berbagai ragam masukan dan referensi yang telah dikumpulkan dari berbagai pihak. Adapun teater modern di Riau ini akan coba di uraikan melalui tinjauan-tinjauan terhadap; 1) Sanggar-Komunitas Seni [teater] modern di Riau, 2) Tokoh Seni [teater] Modern di Riau, dan 3) Perkembangan Seni [teater] Modern di Riau dalam objektifitas berbagai Pementasan Seni [teater] di Riau.





Babakkan selanjutnya dari penelaahan teater modern di Riau adalah sajian dari penjelasan berbagai tinjauan tersebut diatas. Dengan mempertegas pernyataan (bahwa) Seni [teater] Modern di Riau adalah bentuk sajian seni teater sebagai pertunjukan yang (secara objektif penulis) perkembangannya dipengaruhi oleh kaidah norma dan adat seni Melayu, dimana sebagai landasannya yaitu agama Islam.

Pelacakan Sanggar-Komunitas Seni [teater] modern di Riau menyematkan beberapa hal yaitu bahwa ragamnya terdiri atas Kelompok Sanggar yang cikal bakalnya adalah sebuah kegiatan klub atau ekstrakulikuler di sebuah sekolah, dan Kelompok Sanggar yang cikal bakalnya adalah komunitas seni. Sanggar dan komunitas tersebut mengandalkan supliran dana dari pihak – pihak yang berkenan dan memang berkewajiban akan kelangsungan keberadaan mereka. Hanya beberapa sanggar yang mampu bertahan dengan mengandalkan keuangan guna pendanaan kebutuhan sanggar-komunitasnya dari itensitas produksi kreatif. Beberapa sanggar yang kemudian sampi dengan sekarang mamou bertahan juga adalah sanggar tersebut memiliki salahsatu pemarkarsa atau seorang tokoh utama yang cukup berpengaruh dalam sanggar-komunitas tersebut. Berbeda dengan komunitas yang cikal bakalnya adalah sebuah komunitas seni, sanggar teater sekolah yang merupakan kelompok siswa/pelajar tergantung keberadaannya dengan sebuah system yang berada di sekolah tersebut dan jumlah keanggotaan dan pemerhati keberadaannya. Fenomena sanggar-komunitas teater yang cikal bakalnya adalah kegiatan klub atau ekstrakulikuler di sekolah adalah sebuah lingkaran kesinambungan yaitu hilang dan terbentuknya berjalan bersamaan dan selalu ada demikian.Kemudian sebuah fenomena yang menarik lagi adalah keberadaan tentang komunitas taeter kamus/ universitas, yaitu dimana kelomok ini adalah tidak bisa dikatagorikan sebagai kelompok sekolah dan juga tidak bisa pula dikatagorikan sebagai kelompok data komunitas umum. Komunitas teater kampus adalah sebuah kelompok mahasiswa-mahasiswi yang berminat untuk berkegiatan dalam kreatifitas teater. Keanggotaannya kebanyakan adalah purna dari kelompok komunitas teater sekolah dan masih bingung/mencari identitas dalam pemaknaan seni taeter sebagai sebuah komunitas independent.

Penulis menanggapi pula tetang keberadaan tentang komunitas teater yang dicatatnya sebagai komunitas teater festival yaitu keberadaan kelompok ini hanya bisa ditemukan pada saat diadakannya sebuah perhelatan festival teater dan kemudian setelah kegiatan festival tersebut usai, begitupula adanya usainya kegiatan komunitas tersebut.

Nama Alm. Idrus Tintin adalah seoarng sosok pendahulu perkembangan taeter modernd di Riau. Dalam dunia seni peran/teater, berbagai pengalaman telah ia peroleh dan berbagai sumbangsih telah ia berikan. Ia adalah juga seorang penulis puisi dan naskah teater baik berupa saduran ataupun karya pribadi.

Kemudian beberapa nama-nama lain adalah tidak segaung dan segema nama-nama Alm. Idrus Tintin. Ini entah dikarenakan apakah seniman teater Riau adalah sosok lowprofile atau memang karena ketiadaan seniman teater lagi di riau ?.

Nama-nama tokoh teater riau yang lain memang ada, namun tak ada yang sampai melegenda dan meninggalkan banyak bekas yang dapat dikenang. Kemajemukan ini bisa jadi karena juga pengaruh budaya Melayu. Adanya hal tersebut yaitu dikarenakan pengaruh budaya Melayu yaitu pengagungan atas nama selain nama sang pencipta adalah sikap yang kurang terhormat.

Keragaman yang lain yang dapat disimpulkan dari tokoh teater Riau adalah ragam dari dua varian umum yaitu; tokoh teater yang mengetahui bentuk teater secara autodidak dan tokoh teater yang mengetahui bentuk teater secara autodidak dan akademik . Kebanyakan tokoh teater autodidak mendapatkan pengetahuan tentang teater adalah berdasarkan kegiatan teater tradisi yang menjadi bagian dari keseharian kegiatan yang ia lakukan bersama kelompoknya. Dengan adanya perkembangan teater hingga menjadi bentukan teater modernd maka tokoh – tokoh teater autodidak tadi mendapatkan banyak informasi yang lebih dalam ragam perkembangan karya-karya teaternya. Tokoh teater autodidak dan akademis adalah sosok dari beberapa orang yang menempuh jalur pendidiakan teater secara akademik dan juga memiliki latar pengetahuan teater dari ragam kegiatannya sebelum menempuh teater secara akademis. Ragam dari tokoh teater autodidak dan akademik adalah juga biasanya berlatarkan dari keanggotaan di sebuah kominitas teater.

Bersama dengan komunitas dan kelompok sanggarnya, tokoh – tokoh teater itu hanya sebagian kecil yang mementaskan karya secara berkala. Demikian pula dengan keberadaan kelompok teater sanggar sekolah yaitu itensitas pementasan mereka hanya berupa kegiatan festival dan peringatan hari-hari besar saja.

Merupakan suatu keuntungan sebenarnya yaitu keadaan geografi daerah Riau yang berada di lintas antar negara dan point of interest sebagai daerah budaya kerumpunan Melayu yang kental. Letak Riau sebagai lintas antar negara memungkinkan adanya bentuk akulturasi budaya yang mengimbas kepada perkembangan bentuk pementasan teater modernd Riau. Selain itu juga, perkembangan teater Riau akan mendapatkan suatu contoh keragaman dari berbagai macam perkembangan teater di luar wilayah. Sebagai point of interest daerah budaya kerumpunan Melayu pun memberikan warna yang berbeda dari contoh pertunjukan teater modernd di Riau. Namun hal ini belum bisa dimaksimalkan. alhasil adalah sekarang bentukan teater modernd di Riau masih sangat jauh tertinggal dari perkembangannya karena beberapa catatan penting di antaranya :

1. Alternatif tentang bentuk budaya Melayu yang mempengaruhi (secara langsung/tidak) teater modern di Riau tidak bisa dimaksimalkan untuk dijadikan sesuatu yang menciri khas,

2. Kelompok komunitas / sanggar teater di Riau hanya mampu memberikan tontonan yang terjebak kepada proses dilematis pendanaan dan ke-kurang-ahli-an pengelolaan produksi pementasan.

3. Tokoh teater Riau yang masih mempunyai anggapan yaitu teater hanya menjadi suatu kegiatan sampingan penghibur kebosanan, demikian pula keberadaan masyarakat Riau yang masih beranggapan teater hanya sebagai suatu bentuk tontonan hiburan.

4. Proses pembekalan tentang teater sebagai sarana komunikasi masa, belum menjadi suatu yang dapat di utamakan oleh pe-seni di Riau

Penulis menyadari bahwa kegelisahannya dalam makalah ini akan memberikan suatu dampak pada ketidaksetujuan dan pernyataan sikap oleh berbagai pihak pembaca. Perlu diadakannya alternatif diskusi yang berkelanjutan atas makalah ini agar tercipta suatu makalah yang sempurna dan bisa menjadi bentukan dari sebuah loncatan untuk proses pengidentifikasian sosiologis Melayu dan seni teater modern di Riau.
readmore »»  
info unik (242) fakta unik (144) unik (98) musik (69) karya seni (67) aneh (62) Fakta Aneh (61) Inspirasi (40) Lifestyle (40) seni (35) Photo Unik (26) budaya (25) News (20) sejarah (20) Humor (6) Unique (1)
Review www.vanillavanka.blogspot.com on alexa.com
My Ping in TotalPing.com